Perburuan Teroris Belum Berakhir
Tim Liputan 6 SCTV11/03/2010 02:12
Liputan6.com, Jakarta: Sekali lagi anggota teroris tewas di tangan Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri. Ridwan dan Hasan Nur, tersangka teroris tewas ditembak di Gang Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (10/3). Tersangka lainnya yakni Dulmatin tewas di warung internet Multiplus di Jalan Siliwangi, berjarak sekitar 2 kilometer dari Jalan Setiabudi.
Kepastian Dulmatin tewas setelah Mabes Polri menjalani tes DNA. Metode menggunakan identifikasi internasional (Interpol DVI Procedure), tanda fisik, foto, dan data sekunder. Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri mengatakan, tingkat kekeliruan 1 berbanding 100.000 triliun. Bambang yakin pria yang tewas di warnet adalah Dulmatin alias Yahya alias Mansyur alias Joko Pitono [baca: Kapolri Pastikan Dulmatin Tewas].
Pengamat terorisme Al Chaidar dalam acara Barometer, Rabu (10/3), menilai kinerja polisi sukses. Pada kesempatan yang sama Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Polisi Sulistyo Ishak juga mengatakan, dari 270 kasus terorisme, hampir 85 persen diselesaikan polisi.
Kesuksesan ini dipandang berbeda Umar Abduh, mantan teroris. Umar yang juga hadir di acara Barometer mengatakan, tindakan represif polisi yang selalu menembak mati pelaku teroris akan memicu dendam pelaku teroris lain. "Kalau saya jadi teroris, pasti saya marah," jelas Umar. Kejadian ini disayangkan karena jika hidup, bisa dikorek informasi lebih dalam.
Menanggapi pernyataan itu, Sulistyo mengatakan polisi ingin menangkap Dulmatin hidup-hidup. Namun karena ada perlawanan, polisi tak ingin mengambil risiko. "Kita tujuannya melumpuhkan," kata Sulistyo.
Tak sedikit pelaku teroris tewas. Pada 9 November 2005 Doktor Azhari, gembong teroris asal Malaysia ditembak mati di Batu, Jawa Timur. Lalu Agustus 2009 tersangka teroris bernama Ibrohim, karyawan penata bunga yang dipekerjakan di Hotel Ritz Carlton tewas di Temanggung, Jawa Tengah.
Selang dua bulan kemudian atau tepatnya Oktober 2009, kakak beradik Saefudin Juhri alias Saefudin Jaelani dan M. Syahrir. Keduanya tewas dalam penyergapan di Ciputat, Tangerang Selatan. Pertengahan November 2009, tim Densus 88 Antiteror menewaskan Noordin Mohammad Top dalam penggerebekan di Jebres, Solo, Jateng.
Dari sekian banyak keberhasilan polisi, Umar menganggap upaya polisi memberantas teroris masih panjang. "Polisi hanya bisa memadamkan sesaat," kata Umar.
Ditambah lagi mengatakan, kepulangan Dulmatin dari Filipina ke Indonesia adalah untuk merencanakan penyerangan yang lebih besar. "Kalau tidak dia tidak akan pulang," ucap Al Chaidar. Namun perihal wacana adanya keterkaitan dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia, ia membantah. "Setahu saya wacana tentang itu tidak pernah beredar," ujarnya.
Ini diamini pula Umar. "Saya membenarkan ancaman itu akan ada," kata Umar. Bagaimana pendapat pengamat lainnya? Turut hadir Onih Syahroni, saksi penggerebekan di Pamulang dan tokoh Pamulang Habib Abdurrahman Assegaf. Saksikan selengkapnya tayangan Barometer edisi 10 Maret 2010.(AIS)
Kepastian Dulmatin tewas setelah Mabes Polri menjalani tes DNA. Metode menggunakan identifikasi internasional (Interpol DVI Procedure), tanda fisik, foto, dan data sekunder. Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri mengatakan, tingkat kekeliruan 1 berbanding 100.000 triliun. Bambang yakin pria yang tewas di warnet adalah Dulmatin alias Yahya alias Mansyur alias Joko Pitono [baca: Kapolri Pastikan Dulmatin Tewas].
Pengamat terorisme Al Chaidar dalam acara Barometer, Rabu (10/3), menilai kinerja polisi sukses. Pada kesempatan yang sama Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Polisi Sulistyo Ishak juga mengatakan, dari 270 kasus terorisme, hampir 85 persen diselesaikan polisi.
Kesuksesan ini dipandang berbeda Umar Abduh, mantan teroris. Umar yang juga hadir di acara Barometer mengatakan, tindakan represif polisi yang selalu menembak mati pelaku teroris akan memicu dendam pelaku teroris lain. "Kalau saya jadi teroris, pasti saya marah," jelas Umar. Kejadian ini disayangkan karena jika hidup, bisa dikorek informasi lebih dalam.
Menanggapi pernyataan itu, Sulistyo mengatakan polisi ingin menangkap Dulmatin hidup-hidup. Namun karena ada perlawanan, polisi tak ingin mengambil risiko. "Kita tujuannya melumpuhkan," kata Sulistyo.
Tak sedikit pelaku teroris tewas. Pada 9 November 2005 Doktor Azhari, gembong teroris asal Malaysia ditembak mati di Batu, Jawa Timur. Lalu Agustus 2009 tersangka teroris bernama Ibrohim, karyawan penata bunga yang dipekerjakan di Hotel Ritz Carlton tewas di Temanggung, Jawa Tengah.
Selang dua bulan kemudian atau tepatnya Oktober 2009, kakak beradik Saefudin Juhri alias Saefudin Jaelani dan M. Syahrir. Keduanya tewas dalam penyergapan di Ciputat, Tangerang Selatan. Pertengahan November 2009, tim Densus 88 Antiteror menewaskan Noordin Mohammad Top dalam penggerebekan di Jebres, Solo, Jateng.
Dari sekian banyak keberhasilan polisi, Umar menganggap upaya polisi memberantas teroris masih panjang. "Polisi hanya bisa memadamkan sesaat," kata Umar.
Ditambah lagi mengatakan, kepulangan Dulmatin dari Filipina ke Indonesia adalah untuk merencanakan penyerangan yang lebih besar. "Kalau tidak dia tidak akan pulang," ucap Al Chaidar. Namun perihal wacana adanya keterkaitan dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia, ia membantah. "Setahu saya wacana tentang itu tidak pernah beredar," ujarnya.
Ini diamini pula Umar. "Saya membenarkan ancaman itu akan ada," kata Umar. Bagaimana pendapat pengamat lainnya? Turut hadir Onih Syahroni, saksi penggerebekan di Pamulang dan tokoh Pamulang Habib Abdurrahman Assegaf. Saksikan selengkapnya tayangan Barometer edisi 10 Maret 2010.(AIS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
