Bumiku Rawan Longsor
Tim Eksis SCTV10/03/2010 21:09
Liputan6.com, Ciwidey: Kelabu di Bumi Pasundan. Boleh dibilang, rangkaian kata tadi cocok untuk merepresentasikan longsor yang menghantam Desa Tenjolaya, Ciwidey, Jawa Barat, Februari kemarin. Di kawasan perkebunan teh dengan lereng terjal dan berbukit-bukit itu, puluhan jiwa melayang. Dan, material longsor yang berupa lumpur juga menyisakan daya rusak yang hebat.
Selain kawasan Tejolaya, Jawa Barat memiliki beberapa titik rawan longsor. Areal perkebunan teh di Desa Sugi Mukti, Pararangon, misalnya. Dengan posisi di wilayah lereng dan terjal sangat berpotensi mengundang longsor bersifat rambatan. Terlebih lagi, bila curah hujan yang tinggi menerpa kawasan ini.
Warga setempat berinisiatif untuk memantau terjadinya longsor dengan alat pemantau dari bambu. Persisnya, memasang bambu di beberapa titik. Dengan alat itu, mereka bisa memperkirakan terjadinya penurunan tanah di lokasi-lokasi yang dipantau. Meski bergitu, mereka tetap was-was. Bahkan, ada juga yang langsung mengungsi.
Semakin besarnya tingkat kejadian longsor di wilayah Bandung membuat peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus memantau lokasi-lokasi rawan longsor. Misalnya, di kawasan Cadas Pangeran yang menghubungkan Bandung-Sumedang. Bentukan-bentukan mata air pun mulai dipelajari. Karena, menurut para peneliti, mata air menjadi indikasi adanya kejenuhan tanah.
Untuk memperlancar penelitian, mereka memasang alat pemantau hujan guna mengetahui seberapa besar curah hujan yang turun. Bila curah hujan tinggi, maka alat pemantau tersebut dapat dengan cepat memberikan informasi melalui jaringan internet.
Setelah Ciwidey tertimpa bencana longsor, menurut ahli longsor dari LIPI DR Eng Adrin Tohari, kawasan sekitarnya mengalami keretakan tanah karena mengikuti gerak tanah permukaan. Masuknya air ke dalam retakan, katanya, mendorong terjadinya pergerakan tanah.
"Tanah merah dan gembur sangat mudah memicu terjadinya bencana longsor," ungkap Eng Adrin.
Dijelaskan Eng Adrin, tanah gembur umumnya meninggalkan genangan. Tanah gembur dengan bekas kolam besar, katanya, menandakan adanya penurunan tanah. "Untuk memastikan hasil penelitian, air dalam kolam yang bercampur dengan tanah itu dibungkus kain berlapis membran untuk dibawa ke laboratorium," katanya.
Segala pemetaan di daerah rawan longsor ini, penting untuk dilakukan demi mencegah terjadinya longsor seperti di awasan Ciwidey.(ASW/SHA)
Selain kawasan Tejolaya, Jawa Barat memiliki beberapa titik rawan longsor. Areal perkebunan teh di Desa Sugi Mukti, Pararangon, misalnya. Dengan posisi di wilayah lereng dan terjal sangat berpotensi mengundang longsor bersifat rambatan. Terlebih lagi, bila curah hujan yang tinggi menerpa kawasan ini.
Warga setempat berinisiatif untuk memantau terjadinya longsor dengan alat pemantau dari bambu. Persisnya, memasang bambu di beberapa titik. Dengan alat itu, mereka bisa memperkirakan terjadinya penurunan tanah di lokasi-lokasi yang dipantau. Meski bergitu, mereka tetap was-was. Bahkan, ada juga yang langsung mengungsi.
Semakin besarnya tingkat kejadian longsor di wilayah Bandung membuat peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus memantau lokasi-lokasi rawan longsor. Misalnya, di kawasan Cadas Pangeran yang menghubungkan Bandung-Sumedang. Bentukan-bentukan mata air pun mulai dipelajari. Karena, menurut para peneliti, mata air menjadi indikasi adanya kejenuhan tanah.
Untuk memperlancar penelitian, mereka memasang alat pemantau hujan guna mengetahui seberapa besar curah hujan yang turun. Bila curah hujan tinggi, maka alat pemantau tersebut dapat dengan cepat memberikan informasi melalui jaringan internet.
Setelah Ciwidey tertimpa bencana longsor, menurut ahli longsor dari LIPI DR Eng Adrin Tohari, kawasan sekitarnya mengalami keretakan tanah karena mengikuti gerak tanah permukaan. Masuknya air ke dalam retakan, katanya, mendorong terjadinya pergerakan tanah.
"Tanah merah dan gembur sangat mudah memicu terjadinya bencana longsor," ungkap Eng Adrin.
Dijelaskan Eng Adrin, tanah gembur umumnya meninggalkan genangan. Tanah gembur dengan bekas kolam besar, katanya, menandakan adanya penurunan tanah. "Untuk memastikan hasil penelitian, air dalam kolam yang bercampur dengan tanah itu dibungkus kain berlapis membran untuk dibawa ke laboratorium," katanya.
Segala pemetaan di daerah rawan longsor ini, penting untuk dilakukan demi mencegah terjadinya longsor seperti di awasan Ciwidey.(ASW/SHA)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
