Batik Besurek Khas Bengkulu Terancam Hilang Pamor
Rishnaldi07/03/2010 22:54
Liputan6.com, Bengkulu: Batik memang tak cuma ada di Jawa. Di Bengkulu, salah satu kerajinan tangan khas kota tersebut adalah Batik Besurek dengan motif utama batik bertuliskan kaligrafi Arab. Pada hakekatnya, besurek memiliki arti bersurat atau tulisan. Kain ini merupakan kerajinan tradisional Bengkulu yang diwariskan turun temurun. Konon, batik ini diperkenalkan oleh para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad ke-17.
Agar lebih variatif, saat ini para perajin tidak hanya menuliskan huruf kaligrafi, tapi juga mengombinasikan beberapa motif. Misalnya motif relung kuau yang bergambar seperti burung, relung paku yang bentuknya meliuk-liuk seperti tanaman pakis, motif rembulan, serta bunga rafflesia. Sayangnya, sejumlah perajin mengeluh kesulitan memasarkan produk yang dihasilkan. Akibatnya jumlah perajin batik semakin berkurang dan tidak mampu bersaing dengan pengusaha batik cetak.
Salah seorang perajin, Donny mengaku jika sebelumnya mampu menjual belasan batik dalam sehari, kini hanya mampu menjual tak lebih dari sepuluh potong. Biasanya per potong dijual seharga Rp 95 ribu, sedangkan untuk berbahan sutra bisa mencapai Rp 1 juta. Tak pelak, penjualan ini tak sebanding dengan tingginya biaya produksi seperti pembelian bahan baku dan upah pekerja.
Donny menambahkan, lima tahun lalu jumlah tenaga kerjanya mencapai 20 orang. Namun saat ini ia hanya dibantu oleh dua karyawan. Kondisi tersebut terpaksa dilakukan karena tidak mampu bersaing. Padahal selama ini Batik Besurek bukan hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat. Batik ini bahkan menjadi pakaian seragam beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat.
Para perajin berharap, pemerintah terus berupaya melestarikan batik sekaligus menyelamatkan industri rumah yang semakin berkurang di Kota Bengkulu. Menurut Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah Kota Bengkulu, Armelly, pihaknya akan terus melakukan pembinaan untuk meningkatkan kualitas agar mampu bersaing di pasar dalam negeri maupun mancanegara.(TES/AYB)
Agar lebih variatif, saat ini para perajin tidak hanya menuliskan huruf kaligrafi, tapi juga mengombinasikan beberapa motif. Misalnya motif relung kuau yang bergambar seperti burung, relung paku yang bentuknya meliuk-liuk seperti tanaman pakis, motif rembulan, serta bunga rafflesia. Sayangnya, sejumlah perajin mengeluh kesulitan memasarkan produk yang dihasilkan. Akibatnya jumlah perajin batik semakin berkurang dan tidak mampu bersaing dengan pengusaha batik cetak.
Salah seorang perajin, Donny mengaku jika sebelumnya mampu menjual belasan batik dalam sehari, kini hanya mampu menjual tak lebih dari sepuluh potong. Biasanya per potong dijual seharga Rp 95 ribu, sedangkan untuk berbahan sutra bisa mencapai Rp 1 juta. Tak pelak, penjualan ini tak sebanding dengan tingginya biaya produksi seperti pembelian bahan baku dan upah pekerja.
Donny menambahkan, lima tahun lalu jumlah tenaga kerjanya mencapai 20 orang. Namun saat ini ia hanya dibantu oleh dua karyawan. Kondisi tersebut terpaksa dilakukan karena tidak mampu bersaing. Padahal selama ini Batik Besurek bukan hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat. Batik ini bahkan menjadi pakaian seragam beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat.
Para perajin berharap, pemerintah terus berupaya melestarikan batik sekaligus menyelamatkan industri rumah yang semakin berkurang di Kota Bengkulu. Menurut Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah Kota Bengkulu, Armelly, pihaknya akan terus melakukan pembinaan untuk meningkatkan kualitas agar mampu bersaing di pasar dalam negeri maupun mancanegara.(TES/AYB)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
