Akhir Drama Century  

Tim Liputan 6 SCTV
04/03/2010 02:39
Liputan6.com, Jakarta: Demonstrasi di mana-mana. Begitulah situasi yang terjadi sepanjang dua hari mengiringi rapat paripurna DPR mengenai kesimpulan Panitia Khusus Hak Angket Bank Century. Di tengah ricuhnya demonstrasi di luar Gedung Senayan, Wakil Rakyat di dalam tak kalah sengit. Hujan interupsi terjadi sepanjang sidang. Bahkan hari pertama sidang sempat ricuh.

Bak permainan sepakbola, jalannya rapat paripurna menarik untuk disimak. Partai Demokrat serta PKB memilih Opsi A sedangkan Golkar, PDIP, PKS, Hanura, dan Gerindra memilih Opsi C. Sedangkan PPP dan PAN tak memilih keduanya. Opsi A menyebut pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek dan Penyertaan Modal Sementara tak bermasalah. Sedangkan Opsi C sebaliknya.

Kubu Opsi A jika dijumlahkan sekitar 176 kursi. Pemilih Opsi C berjumlah 300 kursi. Sedangkan kubu tak berpendapat berjumlah 84 kursi. Apabila PAN PPP mendukung Opsi A, jumlahnya ternyata tetap lebih kecil dari kubu Opsi C yakni sebanyak 260 kursi. Beda nyaris 40 kursi dengan kubu Opsi C. Tapi dalam politik lawan bisa berubah menjadi kawan atau sebaliknya.

Rapat paripurna keputusan akhir angket kasus Century terasa begitu ribet. Antara lain ada peraturan tentang rapat, formula mengenai keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian yang lumrah. Lobi antara pimpinan DPR dan pimpinan fraksi berjalan alot.

Akibatnya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh yakni Opsi A dan C. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Jadi semakin aneh dan tambah rumit saat dalam forum lobi muncul untuk menerima opsi A dan C sama-sama benar dengan formula A+C.

Namun semua itu tidak masalah buat kalangan perbankan. Mereka hanya ingin kasus ini segera kelar. "Kami ingin cepat selesai dan ada kepastian," ungkap Ketua Umum Perhimpunan Bank Swasta Nasional (Perbanas) Sigit Pranomo dalam acara Barometer, Rabu (3/3) malam. Sigit Pranomo juga meminta agar ada solusi untuk mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang.

Berbeda dengan pengamat ekonomi, Mirza Adityaswara. Menurut Mirza pasar bereaksi positif jika Opsi A menang. "Karena faktanya kita tahu pada 2008 terjadi krisis," kata Mirza. Namun apabila Opsi C menang maka akan menjadi tanda tanya bagi para pelaku pasar akan pemerintahan menjadi solid sampai 2014. Sebab kalangan ekonom awalnya menilai pemerintahan ini kuat.

Hasil voting pengambilan keputusan rekomendasi akhir DPR memenangkan kelompok Opsi C. Sebanyak 325 anggota DPR memilih Opsi C. Sementara pemilih Opsi A terdiri 212 suara. Opsi A yakni Demokrat, PAN, dan PKB masing-masing 148, 39, dan 25 suara. Opsi C yakni Golkar, PDIP, PKS, PPP, PKB, Gerindra, dan Hanura masing-masing 104, 90, 56, 32, 1, 26, dan 17 suara.

Sesuatu mengejutkan terjadi di sidang paripurna. Fraksi PPP yang sempat abu-abu dalam pandangan akhir fraksi, berani balik badan dalam voting tahap kedua untuk mengambil keputusan atas kesimpulan dan rekomendasi akhir. Seluruh anggota PPP yang hadir atau sekitar 32 orang memastikan memilih Opsi C. Sikap PPP langsung disambut sorak-sorai kubu kontra bailout.

DPR sudah memutuskan lewat rapat paripurna adanya kesalahan proses bailout Century. Namun bukan berarti masalah selesai. Ada beberapa hal yang dilakukan. "DPR juga harus menelusuri aliran dana," kata pengamat politik Sebastian Salang. Berikutnya berupa rekomendasi pernyataan pendapat. Dalam tingkat ini diputuskan apakah perlu dilakukan pemakzulan atau tidak.

Terkait pemakzulan, Mirza sebagai pelaku pasar kurang setuju. "Capek-capek pemilu untuk apa kalau diteruskan ke pemakzulan," ujar Mirza. Sementara itu Edwin Sinaga sebagai pelaku pasar modal menilai naik turunnya pasar adalah sesuatu yang wajar. Banyak faktor yang mempengaruhi. Jadi, kata Edwin, hasil paripurna belum tentu memberi dampak negatif untuk pasar.

Setelah hasil paripurna diketahui, mungkin sebagian masyarakat bertanya-tanya tentang koalisi di pemerintahan. Meski peluang ada, kata Sebastian, Presiden tak punya cukup keberanian mengeluarkan Golkar dan PKS dari koalisi. "Akan membuat keguncangan politik baru dan harga politiknya terlalu mahal," katanya. Apalagi PDIP menyatakan tak akan bergabung dengan Demokrat.

Ekonom ICW, Yanuar Rizki menyarankan Presiden mempersatukan bangsa ini lagi yang terpecah-pecah akibat skandal Bank Century. Sedangkan Sigit Pranomo berharap agar DPR segera mempercepat pembuatan undang-undang tentang jaring pengaman keuangan untuk menghadapi krisis. Bagaimana pendapat para pengamat lainnya saksikan selengkapnya dalam video berikut.(JUM)

adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Share

Bookmark

  • Delicious
  • Digg
  • reddit
  • StumbleUpon

Ada Komentar Untuk Artikel Ini.

Posting komentar Anda

POSTING KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar
Security Code

 
 


video

>

Berita Terpopuler