Kisah Ramayana dalam Tari Kecak Kontemporer  

Tim Eksis SCTV
05/03/2010 00:34
Liputan6.com, Denpasar: Menari bagi masyarakat Bali adalah rutinitas yang tak lepas dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak di Bali umumnya mengenal seni tari sejak dini, maka tidak aneh menyaksikan sanggar-sanggar tari di Bali sebagian besar penuh dengan anak-anak. Seperti yang terdapat di Desa Teges Kanginan, Ubud, sebuah kelompok tari kecak bernama Cak Rina, pimpinan I Ketut Rina tumbuh dan mencoba memberi warna yang lain.

Halaman pura ini dipenuhi dengan anak-anak yang berlatih tari kecak. Biasanya mereka yang terlibat dalam tari kecak adalah orang-orang dewasa. Tapi bagi I Ketut Rina tari adalah dunia gerak tanpa batas, maka ia pun membiarkan anak-anak desa bermain kecak dalam pertempuran antara Sugriwa dan Subali. Ini merupakan sebuah penggalan cerita heroik para wanara dalam epos ramayana.

Lewat tembang rindu kegalauan, Ginada, I Ketut Rina akan terlepas, penjiwaannya pun akan bangkit kala menari kecak. Dalam kecak, ia tidak ingin statis.

Awalnya kecak memang dikenal bukan sebagai seni pertunjukkan tapi pengiring tari sanghyang dan umumnya dimainkan di pura-pura. Pada tahun 1930 kecak mulai dipertontonkan di Desa Bona, Gianyar Bali. Tetapi koreografinya masih sederhana dan dominan formasi melingkar.

Seniman Tari Sardono Waluyo Kusumo yang menarik masuk Ketut Rina kecil ke dunia tari kontemporer 40 tahun silam. Dari SardonoKetut Rina paham kecak tidak sekadar berteriak. Koreografi kecak boleh bebas bergerak liar tanpa batasan langgam.

areal pertunjukkan pun sah-sah saja berubah seperti palagan dengan bola api berterbangan. Para penari Kecak Rina adalah warga Desa Teges Kanginan, baik tua dan muda masuk di dalamnya.

Ketut Rina bersyukur, situasi kini tak seburuk masa lalunya ketika dirinya masih kecil saat pelarangan pentas masih berlansung. Tari kecak kontemporer membuat I Ketut Rina lebih bebas berekspresi. Banyak kalangan mengenal Ketut Rina sebagai penari kecak progresif. Murid kecaknya bertebaran di sejumlah negara.

Dalang Bali kondang I Made Sija termasuk berperan penting membuat Ketut Rina keratif mengatur lakon dan mengolah vokal. Begitu juga penari perempuan Bali Ni Made Warini, dari Warini Ketut Rina memahami tari tradisi Bali yang kompleks.

Bagi warga desa, Ketut Rina adalah simbol kecak. Dari dirinyalah Warga Banjar Teges Kanginan mengenal kecak liar yang tidak monoton. Saat purnama jatuh di Bali kelompok kecak Rina mempertunjukkan tari kecak yang berkisah pertarungan antara Sugriwa dan Subali, dua manusia berekor monyet dari kisah Ramayana.

Perang obor dan api tak teringgal, penari kecak tua dan muda berkeliaran ke sana kemari menyuguhkan formasi yang sepintas tampak kacau meski sebetulnya ini adalah wujud ekspresif kecak ala Ketut Rina. Ketika pertarungan berakhr Subali kalah di tengah deru kecak yang riuh.(IDS)


adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Share

Bookmark

  • Delicious
  • Digg
  • reddit
  • StumbleUpon

Ada Komentar Untuk Artikel Ini.

Posting komentar Anda

POSTING KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar
Security Code

 
 


video

>

Berita Terpopuler