AIDS Penyebab Utama Kematian Wanita Usia Subur
03/03/2010 16:32
Liputan6.com, New York: HIV/AID menjadi penyebab utama kematian dan penyakit di kalangan wanita usia subur di seluruh dunia. Demikian kesimpulan konferensi sepuluh hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang HIV/AIDS di New York, Amerika Serikat, baru-baru ini. Karena itu, melalui program UNaids, lembaga itu meluncurkan rencana lima tahun menangani isu-isu gender yang menempatkan wanita pada resiko itu.
Seperti dilansir BBC News, Rabu (3/3), salah satu isu kunci dalam konferensi itu menyebutkan bahwa hampir 70 persen wanita di seluruh dunia dipaksa melakukan seks yang tidak aman. UNAids menegaskan, kekerasan semacam itu tidak boleh ditoleransi.
"Dengan merampok martabat mereka, kita kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan potensi setengah umat manusia untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium," kata Direktur Eksekutif UNAids Michel Sidibe. "Wanita dan gadis-gadis yang bukan korban merupakan pendorong yang membawa transformasi sosial."
Lembaga itu menjelaskan bahwa kekerasan menghambat kemampuan wanita untuk menegosiasikan seks aman. Hal itu menjadi peringatan bahwa hampir 30 tahun sejak awal epidemi layanan HIV tidak merespon kebutuhan khusus wanita dan gadis. Wanita tetap tidak proporsional terkena dampak HIV/AIDS.
Di sub-Sahara Afrika, 60 persen dari mereka yang hidup dengan HIV adalah wanita. Di Afrika Selatan, misalnya, wanita muda tiga kali lebih memungkinkan terinfeksi HIV daripada pria muda pada usia yang sama.
Program UNAids mencakup juga perbaikan pengumpulan data dan analisis tentang bagaimana epidemi mempengaruhi wanita dan memastikan persoalan kekerasan terhadap wanita untuk diintegrasikan dalam program-program pencegahan HIV. Selanjutnya, program itu segera diluncurkan di negara-negara lain, termasuk Liberia.(RST/SHA)
Seperti dilansir BBC News, Rabu (3/3), salah satu isu kunci dalam konferensi itu menyebutkan bahwa hampir 70 persen wanita di seluruh dunia dipaksa melakukan seks yang tidak aman. UNAids menegaskan, kekerasan semacam itu tidak boleh ditoleransi.
"Dengan merampok martabat mereka, kita kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan potensi setengah umat manusia untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium," kata Direktur Eksekutif UNAids Michel Sidibe. "Wanita dan gadis-gadis yang bukan korban merupakan pendorong yang membawa transformasi sosial."
Lembaga itu menjelaskan bahwa kekerasan menghambat kemampuan wanita untuk menegosiasikan seks aman. Hal itu menjadi peringatan bahwa hampir 30 tahun sejak awal epidemi layanan HIV tidak merespon kebutuhan khusus wanita dan gadis. Wanita tetap tidak proporsional terkena dampak HIV/AIDS.
Di sub-Sahara Afrika, 60 persen dari mereka yang hidup dengan HIV adalah wanita. Di Afrika Selatan, misalnya, wanita muda tiga kali lebih memungkinkan terinfeksi HIV daripada pria muda pada usia yang sama.
Program UNAids mencakup juga perbaikan pengumpulan data dan analisis tentang bagaimana epidemi mempengaruhi wanita dan memastikan persoalan kekerasan terhadap wanita untuk diintegrasikan dalam program-program pencegahan HIV. Selanjutnya, program itu segera diluncurkan di negara-negara lain, termasuk Liberia.(RST/SHA)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
