Meriah, Arak-arakan Patung Toa Pe Kong
Ridwan Pamungkas28/02/2010 23:18
Liputan6.com, Cirebon: Warga keturunan Tionghoa di Cirebon, Jawa Barat, Ahad (28/2) sore merayakan Cap Go Meh atau hari ke-15 Imlek, dengan mengarak patung Toa Pe Kong keliling kota. Perayaan ini juga diramaikan arak-arakan naga atau liong dan barongsay.
Toa Pe Kong adalah patung dewa dan dewi yang dianggap sebagai penyelamat bagi umat Khonghucu. Antara lain patung Kong Co Hian Thian Siang Tee sebagai Dewa Panglima Perang, patung Mak Co Kwan Im Pou Sat atau Dewi Welas Asih, Mak Co Po Thian Siang Seng Bo atau Dewi Laut, Kong Co Hok Cheng Shin sebagai Dewa Bumi dan Dewa Rezeki. Serta, patung Kwan Tek Kun sebagai Dewa Perang.
Patung-patung ini mulai diarak dari Vihara Dewi Welas Asih. Kemudian melintasi jalan-jalan dalam Kota Cirebon dengan menggunakan loji atau tenda kebesaran. Arak-arakan ini pun menyedot perhatian warga Cirebon.
Selama dalam perjalanan, patung-patung dewa itu selalu digoyang-goyang untuk menandakan bahwa dewa itu hidup. Sementara bagi para pengusung loji, mereka percaya dengan bisa mengangkat patung dewa kelak bisa membawa hoki atau keberuntungan.
Wali Kota Cirebon Subardi mengatakan, perayaan Cap Go Meh ini bisa menjadi bahan introspeksi bagi warga keturunan Tionghoa. Bukan hanya sebagai acara seremonial, tapi juga mengandung makna yang dalam untuk menjaga kerukunan antarumat.(TES/ANS)
Toa Pe Kong adalah patung dewa dan dewi yang dianggap sebagai penyelamat bagi umat Khonghucu. Antara lain patung Kong Co Hian Thian Siang Tee sebagai Dewa Panglima Perang, patung Mak Co Kwan Im Pou Sat atau Dewi Welas Asih, Mak Co Po Thian Siang Seng Bo atau Dewi Laut, Kong Co Hok Cheng Shin sebagai Dewa Bumi dan Dewa Rezeki. Serta, patung Kwan Tek Kun sebagai Dewa Perang.
Patung-patung ini mulai diarak dari Vihara Dewi Welas Asih. Kemudian melintasi jalan-jalan dalam Kota Cirebon dengan menggunakan loji atau tenda kebesaran. Arak-arakan ini pun menyedot perhatian warga Cirebon.
Selama dalam perjalanan, patung-patung dewa itu selalu digoyang-goyang untuk menandakan bahwa dewa itu hidup. Sementara bagi para pengusung loji, mereka percaya dengan bisa mengangkat patung dewa kelak bisa membawa hoki atau keberuntungan.
Wali Kota Cirebon Subardi mengatakan, perayaan Cap Go Meh ini bisa menjadi bahan introspeksi bagi warga keturunan Tionghoa. Bukan hanya sebagai acara seremonial, tapi juga mengandung makna yang dalam untuk menjaga kerukunan antarumat.(TES/ANS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
