Secercah Air Bagi Gunung Kidul  

Tim Eksis SCTV
25/02/2010 03:03
Liputan6.com, Gunung Kidul: Bukit kapur membentang merata hampir di sebagian besar Gunung Kidul, Yogjakarta. Terdapat hampir 500 gua di sekitar Gunung Kidul. Dengan kondisi ini, mininal sekali dalam setahun ada masa yang benar-benar menyiksa 750 ribuan jiwa penduduknya yakni kekeringan.

Untuk mendapatkan air, warga bisa menempuh perjalann hingga tiga kilometer. Belum lagi warga harus antre. Kemampuan seorang warga mengambil air juga terbatas. Sekitar dua ember saja yang berisi 20 liter. Selain sumber dari gua, warga mengandalkan air hujan yang telah mereka tampung.

Namun secercah harapan menyembul pada warga Gunung Kidul yakni adanya air di bawah permukaan tanah. Jejak-jejak air di bawah tanah pun coba ditelusuri oleh ahli lingkungan gua yakni Tim Speleolog ASC Yogjakarta. Fokus pencarian tim dilakukan di gua Seropan yang berkarakteristik batuan kapur.

Di gua ini, air masuk melalui celah dan rongga-rongga di tanah. Hampir 90 persen air di permukaan masuk ke bawah tanah. Air yang masuk ke bawah tanah sedalam 200 meter ini butuh sekitar dua bulan. Saat musim hujan debit air sekitar 1000 liter per detik dan kemarau 250 liter per detik.

Air yang menetes melalui atap gua melarutkan kalsium karbonat. Kandungan mineral itu mengendap dan membentuk stalagtit. Dan bila deras, rembesan dari atas membentuk pilar. Stalagtit dan stalagmit tumbuh satu sentimeter butuh 5-10 tahun. 30 persen dari 500 gua, berpotensi jadi aliran air.

Selain speleolog, beberapa peneliti air di Yogyakarta juga terus melakukan peneletian baku mutu air di gua-gua Gunung Kidul. Berangkat dari pemikiran, air di areal batuan kapur memiliki karakteristik berbeda dengan air tanah mulai dari kandungan air seperti bakteri, mineral logam, dan calsium.

Potensi air di gua-gua di Gunung Kidul membuat ilmuwan terus mengembangkan berbagai teknologi yang bertujuan mengangkat air ke atas. Pertama teknologi pompa listrik bertenaga solar. Teknologi ini kurang efisien karena terbebani ongkos produksi dan tidak mampu mensuplai air selama 24 jam penuh.

Tekonologi kedua memanfaatkan air itu sendiri sebagai sumber energi utama. Proyek yag diberi nama Bribin membutuhkan waktu sekitar delapan tahun dan menghabiskan dana Rp 33 miliar lebih. Pengeboran awal dilakukan 2004 untuk memudahkan pengerjaan bendungan dan instalasi secara vertikal.

Ahli konstruksi dan geologi dari Universitas Karlsruhe, Jerman. Untuk memudahkan pembangunan konstruksi dilakukan pengeboran sedalam 100 meter dengan diameter 2,5 meter. Cara kerja hidropower sederhana yakni memanfaatkan aliran sungai bawah tanah yang deras untuk menggerakan turbin.

Dari turbin ke generator menghasilkan listrik untuk menggerakan pompa yang mengalirkan air ke atas. Air disalurkan melalui pipa-pipa. Secara alamiah debit mengalami fluktuatif akibat pergantian musim. Maka, turbin pun secara otomatis akan membaca debit yang dapat dialirkan ke atas.

Minimal satu turbin mengalirkan 14-20 liter per detik. Kerja turbin mampu membendung air 1000-3000 liter per detik. Turbin mampu menghasilkan listrik 400 kilowatt. Diharapkan turbin mampu mensuplai air hingga 50 tahun ke depan. Pompa mampu menaikan air hingga ketinggian 250 meter dari lokasi gua.

Air ditampung di puncak bukit. Kapasitas penampung yakni 1000 meter kubik dan dibagi jadi dua kompartmen. Penampung air ada di ketinggian demi memudahkan aliran air ke rumah warga. Kondisi ini memang belum maksimal dan merata bagi warga. Namun pemanfaatan air ramah lingkungan terus berlanjut.

Beberapa warga memanfaatkan air sungai bawah tanah tanpa harus jalan kaki berkilo-kilo. Hidran air umum dibangun di tiap sudut desa. Warga dengan mudah menyimpan air di penampungan bak masing-masing. Warga tak perlu lagi membeli tangki air 5000 meter kubik yang hanya cukup sekitar dua minggu.

Warga mulai merasakan manfaat air yang dialirkan langsung dari gua. Warga terus menerus 24 jam bisa memenuhi kebutuhan air untuk keluarga maupun ternak. Menikmati air secara murah dan ramah lingkungan tak lagi sekadar mimpi. Di masa depan warga Gunung Kidul akan jauh dari rasa gelisah untuk menatap kemarau.(JUM)

adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Share

Bookmark

  • Delicious
  • Digg
  • reddit
  • StumbleUpon

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.

Posting komentar Anda
Tyo Putra Saxxx | tyozrxxx@rocketmxxx.com| 2010-03-01 13:35:20
Akhirnya saudara-saudaraku tak perlu lagi khawatir akan kekeringan, terimakasih ya Rabb

POSTING KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar
Security Code

 
 


video

>

Berita Terpopuler