Warga Unjuk Rasa dan Merusak PLTA
Arwan Ganda Saputra dan Riza Salman09/02/2010 14:29
Liputan6.com, Buton Utara: Kesal dengan janji pengelola pendamping pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), ratusan warga di Buton Utara Sulawesi Tenggara, Selasa (9/2), melakukan unjuk rasa ke lokasi PLTA. Mereka mengamuk dan merusak fasilitas PLTA tersebut. Perusakan ini dilakukan karena penerangan listrik dari PLTA yang dijanjikan pihak pendamping hingga kini belum juga terwujud.
Dengan membawa kayu, ratusan warga asal Desa Labuan Wolio, Kecamatan Wakurumba Utara, Kabupaten Buton Utara ini, mendatangi lokasi PLTA. Di tempat tersebut, ratusan warga mengamuk dan merusak fasilitas PLTA. Melihat kondisi ini sebagian warga mencoba berusaha menghentikan aksi tersebut, namun upaya ini mendapat perlawanan keras dari ratusan warga yang melakukan perusakan.
Perkelahian sempat terjadi. Beruntung, situasi memanas ini tidak berlangsung lama sebab kelompok warga yang ingin menghentikan aksi akhirnya memilih untuk mengalah. Tidak puas dengan merusak fasilitas PLTA, para warga kemudian melampiaskan kemarahan dengan merusak jaringan listrik yang telah tersambung ke sejumlah rumah warga. Ratusan warga berharap pihak pengelola PLTA segera menyelesaikan persoalan ini.
Abima, salah seorang warga mengatakan, ratusan warga desa ini sangat kecewa dengan pihak pengelola PLTA. Sebab, sejak 2009, bangunan PLTA telah selesai dibangun dan pihak pengelola berjanji akan segera mengoperasikan PLTA tersebut. Setelah ditunggu sekian lama hingga kini listrik yang sudah lama dimimpikan warga ini tidak kunjung terwujud. Proyek pembangunan PLTA ini merupakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang menelan anggaran hingga Rp 350 juta.(ARL/YUS)
Dengan membawa kayu, ratusan warga asal Desa Labuan Wolio, Kecamatan Wakurumba Utara, Kabupaten Buton Utara ini, mendatangi lokasi PLTA. Di tempat tersebut, ratusan warga mengamuk dan merusak fasilitas PLTA. Melihat kondisi ini sebagian warga mencoba berusaha menghentikan aksi tersebut, namun upaya ini mendapat perlawanan keras dari ratusan warga yang melakukan perusakan.
Perkelahian sempat terjadi. Beruntung, situasi memanas ini tidak berlangsung lama sebab kelompok warga yang ingin menghentikan aksi akhirnya memilih untuk mengalah. Tidak puas dengan merusak fasilitas PLTA, para warga kemudian melampiaskan kemarahan dengan merusak jaringan listrik yang telah tersambung ke sejumlah rumah warga. Ratusan warga berharap pihak pengelola PLTA segera menyelesaikan persoalan ini.
Abima, salah seorang warga mengatakan, ratusan warga desa ini sangat kecewa dengan pihak pengelola PLTA. Sebab, sejak 2009, bangunan PLTA telah selesai dibangun dan pihak pengelola berjanji akan segera mengoperasikan PLTA tersebut. Setelah ditunggu sekian lama hingga kini listrik yang sudah lama dimimpikan warga ini tidak kunjung terwujud. Proyek pembangunan PLTA ini merupakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang menelan anggaran hingga Rp 350 juta.(ARL/YUS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
