Dilanda Stres, Ibu Muda Dipasung
Dirgo Suyono09/02/2010 10:23
Liputan6.com, Ponorogo: Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Pepatah inilah yang pantas untuk menggambarkan derita hidup yang dijalani Sulastri (30), warga Desa Bajang, Kecamatan Balong, Ponorogo. Sudah hampir tiga tahun Sulastri harus hidup di dalam pasungan di kandang kambing bekas, di belakang rumahnya. Hal itu tersebut terpaksa dilakukan, karena ibu satu anak yang baru berumur tiga bulan ini, sering mengamuk hingga membuat resah keluarga dan warga desa.
Kisah pilu Sulastri tidak hanya sampai di situ. Sejak dirinya menderita sakit ingatan, suaminya justru pergi meninggalkannya begitu saja. Menurut warga, suami Sulastri pergi menjadi tenaga kerja di Malaysia.
Musibah yang menimpa Sulastri bermula pada 2007 lalu. Saat itu Sulastri pergi mengadu nasib ke Surabaya sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga. Tanpa sebab yang jelas, korban sering diperlakukan kasar majikannya. Korban pun pernah dibuang di suatu tempat, dan akhirnya pulang ke Ponorogo tanpa membawa uang sepeser pun.
Misinem, ibu dari Sulastri mengatakan, keluarganya sudah berusaha melakukan pengobatan semampunya, tetapi karena tidak memiliki biaya Sulastri tidak pernah dibawa ke dokter. Ia sangat mengharapkan kesembuhan anaknya tersebut, agar bisa membantunya kembali
Sedangkan Gumbrek, kerabat Sulastri menuturkan, sudah hampir tiga tahu Sulastri dipasung, karena sering mengamuk dan meresahkan warga. Keluarga korban telah membawa Sulastri ke mana-mana untuk menjalani pengobatan, namun ketiadaan biaya akhirnya membuat pengobatan Sulastri dihentikan. "Mau makan saja orang tuanya sulit," kata Gumbrek.
Sementara itu, hingga saat ini penderitaan yang dialami Sulastri belum mendapatkan perhatian sama sekali dari Pemerintah Desa maupun Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo.(ARL/YUS)
Kisah pilu Sulastri tidak hanya sampai di situ. Sejak dirinya menderita sakit ingatan, suaminya justru pergi meninggalkannya begitu saja. Menurut warga, suami Sulastri pergi menjadi tenaga kerja di Malaysia.
Musibah yang menimpa Sulastri bermula pada 2007 lalu. Saat itu Sulastri pergi mengadu nasib ke Surabaya sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga. Tanpa sebab yang jelas, korban sering diperlakukan kasar majikannya. Korban pun pernah dibuang di suatu tempat, dan akhirnya pulang ke Ponorogo tanpa membawa uang sepeser pun.
Misinem, ibu dari Sulastri mengatakan, keluarganya sudah berusaha melakukan pengobatan semampunya, tetapi karena tidak memiliki biaya Sulastri tidak pernah dibawa ke dokter. Ia sangat mengharapkan kesembuhan anaknya tersebut, agar bisa membantunya kembali
Sedangkan Gumbrek, kerabat Sulastri menuturkan, sudah hampir tiga tahu Sulastri dipasung, karena sering mengamuk dan meresahkan warga. Keluarga korban telah membawa Sulastri ke mana-mana untuk menjalani pengobatan, namun ketiadaan biaya akhirnya membuat pengobatan Sulastri dihentikan. "Mau makan saja orang tuanya sulit," kata Gumbrek.
Sementara itu, hingga saat ini penderitaan yang dialami Sulastri belum mendapatkan perhatian sama sekali dari Pemerintah Desa maupun Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo.(ARL/YUS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
