Heru Lelono, dari Beo hingga Supertoy
Tim Liputan 6 SCTV06/02/2010 19:25
Liputan6.com, Jakarta: Pria satu ini acap terlihat mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di mana SBY berada, di sana pula ia terlihat. Maklum pria berkumis ini berada di lingkaran dalam Sang Presiden. Di lima tahun pertama pemerintahan SBY, Heru menjabat Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan dan Otonomi Daerah.
Penggemar modifikasi mobil ini bukan pendatang baru dalam dunia politik. Ia mengawali karier politik dengan bergabung di Badan Penelitian dan Pengembangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada 1998. Selain itu ia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dari organisasi non-pemerintahan Gerakan Indonesia Bersatu.
Padatnya kegiatan, membuat Heru harus pintar mengatur waktu sehingga masih mampu berkomunikasi dengan keluarga. Karena itu pula ia memilih hobi modifikasi mobil. Hobi ini, menurut Heru, bisa dilakukan tanpa harus sering meninggalkan rumah. Selain otomotif, Heru juga memelihara burung beo untuk mengisi waktu senggang di rumah. Bagi Heru, beo kerap menjadi teman bicara yang mengasyikkan. "Saya bisa berjam-jam di depan (beo) itu," ujar Heru di kediamannya di Jakarta, baru-baru ini.
Meski termasuk orang lama di kancah politik, nama Heru baru dikenal publik ketika ide bahan bakar alternatif blue energy mulai terdengar dari Istana, pertengahan 2008. Atas perantara Heru-lah, SBY bertemu dengan Joko Suprapto, penemu blue energy. SBY pun disebut-sebut mendukung penemuan luar biasa dari Joko.
Blue energy sebetulnya bisa menjadi strategi kehumasan yang amat baik bagi pencitraan pemerintah. Betapa tidak, di tengah isu pemanasan global dan naiknya harga bahan bakar minyak, Joko keluar dengan ide membuat base fuel atau minyak dasar pembuat bahan bakar berbahan baku hidrogen yang diambil dari air. Artinya bila berhasil, Indonesia bisa lepas dari ketergantungan bahan bakar fosil yang terbatas, sekaligus sangat ramah lingkungan karena berbahan dasar air (H2O). Heru pun menjabat Ketua Tim Energy dalam proyek yang bernaung di bawah PT Sarana Harapan Indopower. Perusahaan ini adalah anak perusahaan PT Sarana Harapan Indogroup yang Komisaris Utama-nya adalah Heru.
Sayang langkah ini justru menjadi blunder. Joko tiba-tiba menghilang justru di hari saat ia dijadwalkan bertemu SBY menunjukkan proses inovasinya. Sontak kabar tersebut membuat geger masyarakat. Joko disebut-sebut sebagai penipu. Dan mau tak mau, nama Heru pun terseret dalam kasus ini. Seperti Joko, Heru pun saat itu sulit dihubungi wartawan.
Belum juga kasus ini mendingin, sejumlah petani memprotes karena padi yang disebut-sebut varietas unggul gagal saat hendak dipanen untuk kedua kali. Para petani yang ikut program padi unggulan jenis Supertoy HL-2 yang diresmikan SBY itu menemukan seratus hektare tanaman padi Supertoy siap panen ternyata tak berisi. Bulirnya hampa. Petani marah dan membakar padi mereka.
Sebelumnya varietas ini dijanjikan bisa tiga kali dipanen hanya dengan sekali tanam. Caranya tinggal merawat tanaman setelah panen pertama atau kedua. Setelah gagal, Andi Malarangeng yang saat itu Juru Bicara Kepresiden menyatakan, Supertoy bukan proyek pemerintah. Dan memang varietas padi ini masih dalam uji coba.
Kasus ini seharusnya menjadi tanggung jawab PT Sarana Harapan Indopangan, anak perusahaan PT Sarana Harapan Indogroup. Namun PT Sarana Harapan Indopangan tidak bersedia membayar ganti rugi. Alasannya kesepakatan dengan petani, perusahaan hanya bertanggung jawab untuk panen pertama saja [baca: Supertoy HL-2 Gagal, Petani Tuntut Ganti Rugi]. Sejak saat itu, Heru pun makin sulit dicari pemburu berita.
Namun kedua kasus yang mencoreng pemerintah ini tak membuat posisi Heru di staf khusus kepresidenan tergoyahkan. Hubungan baik yang terjaga dengan SBY rupanya sangat kuat. Buktinya, di periode kedua pemerintahan SBY, Heru masih menduduki kantor Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Informasi.(ZAQ)
Penggemar modifikasi mobil ini bukan pendatang baru dalam dunia politik. Ia mengawali karier politik dengan bergabung di Badan Penelitian dan Pengembangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada 1998. Selain itu ia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dari organisasi non-pemerintahan Gerakan Indonesia Bersatu.
Padatnya kegiatan, membuat Heru harus pintar mengatur waktu sehingga masih mampu berkomunikasi dengan keluarga. Karena itu pula ia memilih hobi modifikasi mobil. Hobi ini, menurut Heru, bisa dilakukan tanpa harus sering meninggalkan rumah. Selain otomotif, Heru juga memelihara burung beo untuk mengisi waktu senggang di rumah. Bagi Heru, beo kerap menjadi teman bicara yang mengasyikkan. "Saya bisa berjam-jam di depan (beo) itu," ujar Heru di kediamannya di Jakarta, baru-baru ini.
Meski termasuk orang lama di kancah politik, nama Heru baru dikenal publik ketika ide bahan bakar alternatif blue energy mulai terdengar dari Istana, pertengahan 2008. Atas perantara Heru-lah, SBY bertemu dengan Joko Suprapto, penemu blue energy. SBY pun disebut-sebut mendukung penemuan luar biasa dari Joko.
Blue energy sebetulnya bisa menjadi strategi kehumasan yang amat baik bagi pencitraan pemerintah. Betapa tidak, di tengah isu pemanasan global dan naiknya harga bahan bakar minyak, Joko keluar dengan ide membuat base fuel atau minyak dasar pembuat bahan bakar berbahan baku hidrogen yang diambil dari air. Artinya bila berhasil, Indonesia bisa lepas dari ketergantungan bahan bakar fosil yang terbatas, sekaligus sangat ramah lingkungan karena berbahan dasar air (H2O). Heru pun menjabat Ketua Tim Energy dalam proyek yang bernaung di bawah PT Sarana Harapan Indopower. Perusahaan ini adalah anak perusahaan PT Sarana Harapan Indogroup yang Komisaris Utama-nya adalah Heru.
Sayang langkah ini justru menjadi blunder. Joko tiba-tiba menghilang justru di hari saat ia dijadwalkan bertemu SBY menunjukkan proses inovasinya. Sontak kabar tersebut membuat geger masyarakat. Joko disebut-sebut sebagai penipu. Dan mau tak mau, nama Heru pun terseret dalam kasus ini. Seperti Joko, Heru pun saat itu sulit dihubungi wartawan.
Belum juga kasus ini mendingin, sejumlah petani memprotes karena padi yang disebut-sebut varietas unggul gagal saat hendak dipanen untuk kedua kali. Para petani yang ikut program padi unggulan jenis Supertoy HL-2 yang diresmikan SBY itu menemukan seratus hektare tanaman padi Supertoy siap panen ternyata tak berisi. Bulirnya hampa. Petani marah dan membakar padi mereka.
Sebelumnya varietas ini dijanjikan bisa tiga kali dipanen hanya dengan sekali tanam. Caranya tinggal merawat tanaman setelah panen pertama atau kedua. Setelah gagal, Andi Malarangeng yang saat itu Juru Bicara Kepresiden menyatakan, Supertoy bukan proyek pemerintah. Dan memang varietas padi ini masih dalam uji coba.
Kasus ini seharusnya menjadi tanggung jawab PT Sarana Harapan Indopangan, anak perusahaan PT Sarana Harapan Indogroup. Namun PT Sarana Harapan Indopangan tidak bersedia membayar ganti rugi. Alasannya kesepakatan dengan petani, perusahaan hanya bertanggung jawab untuk panen pertama saja [baca: Supertoy HL-2 Gagal, Petani Tuntut Ganti Rugi]. Sejak saat itu, Heru pun makin sulit dicari pemburu berita.
Namun kedua kasus yang mencoreng pemerintah ini tak membuat posisi Heru di staf khusus kepresidenan tergoyahkan. Hubungan baik yang terjaga dengan SBY rupanya sangat kuat. Buktinya, di periode kedua pemerintahan SBY, Heru masih menduduki kantor Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Informasi.(ZAQ)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
