Serbuan Tekstil Cina  

Tim Liputan 6 SCTV
28/01/2010 00:43
Liputan6.com, Jakarta: Ratusan buruh tekstil di Cimahi, Bandung, Jawa Barat, belum lama ini turun ke jalan. Mereka mendatangi sejumlah pabrik tekstil di sekitar Kota Bandung seraya mengajak buruh lainnya ikut berunjuk rasa. Para buruh menuntut agar perdagangan bebas dibatalkan. Menurut para buruh pemberlakuan perdagangan bebas Asean-Cina bakal melindas nasib mereka.

Tak hanya di Bandung, penolakan perdagangan bebas juga terjadi di berbagai daerah lain. Di Surabaya, Jawa Timur misalnya. Ratusan buruh dari Aliansi Serikat Pekerja Nasional Jatim menuntut hal serupa. Para buruh geram karena menganggap pemerintah hanya memikirkan keuntungan bisnis tanpa memperhatikan nasib mereka. Bukan tak mungkin, buruh-buruh ini terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran karena industri lokal kolaps lantaran tak mampu bersaing dengan produk Cina.

Ternyata kekhawatiran bukan hanya timbul dari kalangan bawah. Para pengusaha juga menyatakan hal serupa. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan akan terjadi PHK massal karena kemungkinan nantinya 75 persen pasar domestik dikuasai produk Cina.

Belum genap satu bulan perdagangan bebas diberlakukan, produk Cina sudah merajalela. Sebagian pengusaha di sentra tekstil, seperti Tanahabang dan Mangga Dua, Jakarta akhirnya beralih menjual produk Cina. Tekstil dan garmen asal Negeri Tirai Bambu banyak diburu karena lebih murah dibanding produk dalam negeri. Omset para pedagang pun melonjak. Mereka mengaku dalam sehari rata-rata penjualan mencapai enam hingga Rp 10 juta.

Bandung adalah salah satu sentra industri tekstil di Tanah Air. Dalam 30 tahun terakhir Bandung dan sekitarnya merajai industri tekstil nasional. Nilai ekspor tekstilnya mencapai dua juta ton atau senilai US$ 5 miliar per tahun. Tapi sekarang industri tekstil di daerah ini sedang megap-megap.

Data API Jabar menyebutkan dalam kurun waktu 2004-2006 tercatat 400 perusahaan tekstil kolaps. Pada 2008 dari 2.200 perusahaan yang terdaftar kini tinggal 1.600 perusahaan.

Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta adalah salah satu pintu masuk utama komoditi dari Cina dan negara Asean lainnya. Pascaperdagangan bebas, impor melonjak. Kekhawatiran menyeruak pasar lokal bakal dijajah produk Cina. Tekstil menjadi salah satu sektor paling rentan selain industri baja, elektronik dan manufaktur serta petrokimia.

Wacana perdagangan bebas dengan Cina sebenarnya sudah digulirkan lebih dari lima tahun lalu. Tapi baru kali ini protes bermunculan menentang kebijakan tersebut. Sejumlah pakar ekonomi menyangsikan kesiapan pemerintah. Namun pemerintah yakin banyak peluang memenangkan pasar bebas.

Nyatanya neraca perdagangan Indonesia dengan Cina dan sesama negara Asean sejak lima tahun lalu selalu defisit. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor dan impor nonmigas Indonesia tahun lalu saja neraca perdagangan Indonesia dengan Cina defisit lebih dari US$ 4 miliar.

Berkurangnya potensi pendapatan dan kondisi pasar yang terdesak ekspansi Cina menggugah wakil rakyat di DPR mempertanyakan kebijakan pemerintah. Desakan anggota Dewan dijawab dengan meninjau ulang 228 pos tarif yang tak siap bersaing di pasar bebas. Pemerintah pun mengkaji subsidi bagi industri yang dianggarkan dari APBN perubahan 2010.(IAN)

adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Share

Bookmark

  • Delicious
  • Digg
  • reddit
  • StumbleUpon

Ada Komentar Untuk Artikel Ini.

Posting komentar Anda

POSTING KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar
Security Code

 
 


video

>

Berita Terpopuler