Tari Lengger Riwayatmu Kini
Yon Daryono dan Bagus Pradana25/01/2010 20:39
Liputan6.com, Wonosobo: Kesenian tradisional tari lengger dari Wonosobo, Jawa Tengah, di ambang kepunahan. Perkumpulan kesenian tari tradisional yang dalam setiap pertunjukan selalu diwarnai adegan kesurupan itu, kini dapat dihitung dengan jari.
Pada mulanya, perkumpulan tari lengger di Wonosobo, menyebar hampir di setiap desa. Seni tari yang sempat menjadi unggulan masyarakat di kaki Gunung Dieng tersebut kini tergeser oleh band musik modern, seperti orkes Melayu maupun musik rock. Akibatnya, lambat laun tari lengser semakin dilupakan oleh generasi muda setempat.
Satu-satunya desa yang sampai sekarang masih eksis mengembangkan tari lengger adalah Desa Gayani, Kecamatan Selomerto. Di desa ini perkumpulan tari lengger masih tetas eksis. Sebab, warga di sana baik tua maupun muda selalu berusaha melestarikan kesenian ini agar tidak punah.
Lengger adalah tari tradisional yang menampilkan keanggunan dengan nuansa mistis. Setiap pentas tari lengger senantiasa disertai adegan kesurupan. Diyakini, para penarinya dimasuki roh leluhur. Pemain yang kesurupan ini biasanya memakan pecahan kaca, silet bahkan paku. Anehnya, sekalipun mulutnya berdarah-darah, setelah sadar sang pemain tidak merasakan sakit sama sekali.
Pada setiap pertunjukan tari, para penonton biasanya selain takjub dengan adegan kesurupan tersebut. Mereka pun senang dengan pertunjukan tarinya. Terutama, ketika salah seorang penari dengan tenangnya berdiri di atas bahu seorang pemain lain dan mengikuti irama gending.
Ketua Perkumpulan Tari Lengger Giyanti, Dwi Prasetyo, berharap kesenian tari ini dapat tetap bertahan menghadapi budaya modern. Ia juga meminta kepada para pemain agar tidak tergiur dengan kebudayaan lain, meski tidak ada imbalan yang menjanjikan.(ARL/ANS)
Pada mulanya, perkumpulan tari lengger di Wonosobo, menyebar hampir di setiap desa. Seni tari yang sempat menjadi unggulan masyarakat di kaki Gunung Dieng tersebut kini tergeser oleh band musik modern, seperti orkes Melayu maupun musik rock. Akibatnya, lambat laun tari lengser semakin dilupakan oleh generasi muda setempat.
Satu-satunya desa yang sampai sekarang masih eksis mengembangkan tari lengger adalah Desa Gayani, Kecamatan Selomerto. Di desa ini perkumpulan tari lengger masih tetas eksis. Sebab, warga di sana baik tua maupun muda selalu berusaha melestarikan kesenian ini agar tidak punah.
Lengger adalah tari tradisional yang menampilkan keanggunan dengan nuansa mistis. Setiap pentas tari lengger senantiasa disertai adegan kesurupan. Diyakini, para penarinya dimasuki roh leluhur. Pemain yang kesurupan ini biasanya memakan pecahan kaca, silet bahkan paku. Anehnya, sekalipun mulutnya berdarah-darah, setelah sadar sang pemain tidak merasakan sakit sama sekali.
Pada setiap pertunjukan tari, para penonton biasanya selain takjub dengan adegan kesurupan tersebut. Mereka pun senang dengan pertunjukan tarinya. Terutama, ketika salah seorang penari dengan tenangnya berdiri di atas bahu seorang pemain lain dan mengikuti irama gending.
Ketua Perkumpulan Tari Lengger Giyanti, Dwi Prasetyo, berharap kesenian tari ini dapat tetap bertahan menghadapi budaya modern. Ia juga meminta kepada para pemain agar tidak tergiur dengan kebudayaan lain, meski tidak ada imbalan yang menjanjikan.(ARL/ANS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
