Menengok Nasib Penderita Kusta  

Qodriansyah Sofyan
25/01/2010 19:06
Liputan6.com, Pare-Pare: Hari Kusta Sedunia mengingatkan kita untuk memberikan dukungan dan berempati bagi para penderita kusta. Penyakit ini kadang dianggap kutukan dan penderitanya dijauhi masyarakat. Tidak terkecuali yang dialami Basri, warga Pare-Pare, Sulawesi Selatan, yang menderita kusta.

Penyakit kusta membuat jari-jari Basri tak utuh lagi. Meski begitu, keterampilannya membuat batu-bata tidak pernah berkurang. Ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari, apalagi setelah ia sembuh dari kusta. Satu bata dijual seharga Rp 250. Penghasilan Rp 50 ribu per pekan yang didapat dari berjualan bata tentu jauh dari kecukupan. Namun ia tetap bersyukur.

Warga yang berdomisili di permukiman penderita kusta di Kelurahan Bukit Harapan, Soreang, ini berusaha bangkit dari rasa malu yang dialaminya akibat cibiran kebanyakan orang normal. Harapan Basri, batu-bata karyanya bisa dipakai para kontraktor bangunan agar kelak impian kemakmuran bagi mantan penderita kusta yang termajinalkan dapat tercapai.(YNI/AYB)


adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Share

Bookmark

  • Delicious
  • Digg
  • reddit
  • StumbleUpon

Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini.

Posting komentar Anda
ridwan wahyudi xxx | ridwanwahyudxxx@gmxxx.com| 2011-06-21 08:45:53
kita sebagai petugas kesehatan harus bekerja secara ikhlas
ridwan wahyudi xxx | ridwanwahyudxxx@gmxxx.com| 2011-06-21 08:44:12
bekerja untuk penyakit kusta harus secara ikhlas bukan mengharapkan apa - apa

POSTING KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar
Security Code

 
 


video

>

Berita Terpopuler