Kap Lampu Bermotif Suku Aborigin
Julianus Kriswantoro18/01/2010 09:56
Liputan6.com, Ubud: Kap lampu hias berbahan dasar kain dan kawat, itu sudah biasa. Namun bagaimana jika bahan kap itu menggunakan fiber? Itu adalah kreasi baru. Seperti yang dilakukan pengrajin kayu asal Bali, Heri Budiana. Pria ini mencoba usaha baru membuat kap lampu berbahan dasar fiber.
Semula Heri adalah pengrajin kayu ukiran bermotif suku Aborigin, Australia. Ia kemudian mencoba membuat kap lampu dari fiber setelah berjumpa dengan salah seorang tamunya dari Spanyol. Tamu tersebut bahkan sengaja membawakan fiber untuk dijadikan kap lampu.
Kap lampu buatan Heri dan karyawannya lebih detail serta desainnya unik karena dikerjakan dengan tangan manusia. "Kap lampu motif biasa itu sudah biasa. Nah, di sini spesialis kap lampu motif suku Aborigin Australia," kata Heri baru-baru ini.
Lantaran itu sangat wajar kap lampu buatan Heri banyak diminati masyarakat di Tanah Air maupun mancanegara. Bahkan, menurut Heri, pelanggannya lebih banyak dari luar negri.
"Untuk pemasarannya ke luar negeri, seperti Perancis, Italia, Spanyol, sekitar 80 persen. Lokal juga ada sekitar 20 persen, yakni ke Jogja, Jakarta, Surabaya, kemudian untuk dijual lagi di toko-toko dia," kata Heri. Maklum, pemasaran yang dilakukan Heri hanya kepada tamu yang datang ke tempatnya saja.
Kendati dikerjakan dengan tangan, soal desain, kap lampu hasil kerajinan Heri boleh diadu. Sebab, ia selalu mencari motif dan bentuk baru lantaran desain lama sudah banyak yang menggunakan. "Kalau orang banyak yang bikin, saya cari desain baru," kata Heri.
Hal itu, kata Heri, dilakukan agar pelanggan tidak bosan dengan desain yang itu-itu saja. Karena itu kebanyakan pelanggan Heri selalu kembali kepadanya. "Tamu datang enam bulan sekali, satu tahun sekali, atau paling cepat tiga bulan sekali, jadi pas mereka ke sini sudah keluar desain baru," kata Heri.
Soal kendala, Heri yang selama jadi pengrajin kap lampu membuka usaha di kawasan Teges Peliatan, Ubud, Bali ini, mengaku tidak menemui masalah. "Bahan baku gampang, tenaga kerja banyak," kata Heri. Pria berkumis itu berharap ke depan bisa memasarkan hasil usahanya lebih luas ke seluruh dunia. "Ke depan ingin punya website sendiri, jadi bisa dipasarkan lewat situ, dan mau buat pameran," kata Heri.(BJK)
Semula Heri adalah pengrajin kayu ukiran bermotif suku Aborigin, Australia. Ia kemudian mencoba membuat kap lampu dari fiber setelah berjumpa dengan salah seorang tamunya dari Spanyol. Tamu tersebut bahkan sengaja membawakan fiber untuk dijadikan kap lampu.
Kap lampu buatan Heri dan karyawannya lebih detail serta desainnya unik karena dikerjakan dengan tangan manusia. "Kap lampu motif biasa itu sudah biasa. Nah, di sini spesialis kap lampu motif suku Aborigin Australia," kata Heri baru-baru ini.
Lantaran itu sangat wajar kap lampu buatan Heri banyak diminati masyarakat di Tanah Air maupun mancanegara. Bahkan, menurut Heri, pelanggannya lebih banyak dari luar negri.
"Untuk pemasarannya ke luar negeri, seperti Perancis, Italia, Spanyol, sekitar 80 persen. Lokal juga ada sekitar 20 persen, yakni ke Jogja, Jakarta, Surabaya, kemudian untuk dijual lagi di toko-toko dia," kata Heri. Maklum, pemasaran yang dilakukan Heri hanya kepada tamu yang datang ke tempatnya saja.
Kendati dikerjakan dengan tangan, soal desain, kap lampu hasil kerajinan Heri boleh diadu. Sebab, ia selalu mencari motif dan bentuk baru lantaran desain lama sudah banyak yang menggunakan. "Kalau orang banyak yang bikin, saya cari desain baru," kata Heri.
Hal itu, kata Heri, dilakukan agar pelanggan tidak bosan dengan desain yang itu-itu saja. Karena itu kebanyakan pelanggan Heri selalu kembali kepadanya. "Tamu datang enam bulan sekali, satu tahun sekali, atau paling cepat tiga bulan sekali, jadi pas mereka ke sini sudah keluar desain baru," kata Heri.
Soal kendala, Heri yang selama jadi pengrajin kap lampu membuka usaha di kawasan Teges Peliatan, Ubud, Bali ini, mengaku tidak menemui masalah. "Bahan baku gampang, tenaga kerja banyak," kata Heri. Pria berkumis itu berharap ke depan bisa memasarkan hasil usahanya lebih luas ke seluruh dunia. "Ke depan ingin punya website sendiri, jadi bisa dipasarkan lewat situ, dan mau buat pameran," kata Heri.(BJK)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
