Dahlan: "Saya Dipilih Karena Manajemen dan Kepemimpinan"
Tim Liputan 6 SCTV23/12/2009 20:02
Liputan6.com, Jakarta: Terpilihnya Dahlan Iskan sebagai Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) sempat memunculkan kontroversi. Dahlan berasal dari luar PLN, dan dianggap memiliki konflik kepentingan, karena memiliki PLTU Embalut di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, yang listriknya dijual ke PLN, serta di Gresik, Jawa Timur untuk memasok kebutuhan listrik untuk pabrik kertasnya.
Kontroversi itu dibantah Chief Executive Officer, atau pejabat eksekutif tertinggi di Grup Jawa Pos ini. "Saya dipilih karena melaksanakan prinsip manajemen dan leadership yang tepat sebagai pebisnis," jelas Dahlan, menjawab kontroversi itu kepada Liputan 6, Rabu (23/12) siang, dalam wawancara khusus, sebelum dilantik sebagai Dirut PLN petang harinya.
"Semula saya bingung, wartawan kok diminta memimpin PLN, sebuah BUMN besar," aku Dahlan. Bahkan ia sempat kaget dan tidak menyangka saat diminta membenahi PLN, yang dikabarkan punya utang sekitar Rp 130 triliun. "Saya juga bukan insinyur, yang mengerti soal gardu dan kerusakan jaringan listrik, " ucap lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini sembari tersenyum.
Namun, dalam menjalankan bisnis, Dahlan tergolong sukses. Di bisnis koran, mantan wartawan Tempo ini sukses memimpin Jawa Pos dari koran lokal menjadi koran terbesar di Jawa Timur dan Indonesia bagian Timur. Bahkan ia memiliki jaringan koran lokal melalui Jawa Pos News Network (JPNN), yang bermarkas di Surabaya. Begitu juga dengan pabrik kertas di Gresik untruk menunjang bisnis media cetaknya, juga terbilang sukses.
Salah satu rencananya agar PLN tidak rugi adalah dengan melakukan efisiensi. Dahlan berencana untuk menurunkan biaya produksi PLN yang dinilainya masih tinggi. "Jika biaya ditekan atau diturunkan, subsidi pemerintah bisa dikurangi tanpa menaikkan tarif listrik," tegasnya. (ETA)
Kontroversi itu dibantah Chief Executive Officer, atau pejabat eksekutif tertinggi di Grup Jawa Pos ini. "Saya dipilih karena melaksanakan prinsip manajemen dan leadership yang tepat sebagai pebisnis," jelas Dahlan, menjawab kontroversi itu kepada Liputan 6, Rabu (23/12) siang, dalam wawancara khusus, sebelum dilantik sebagai Dirut PLN petang harinya.
"Semula saya bingung, wartawan kok diminta memimpin PLN, sebuah BUMN besar," aku Dahlan. Bahkan ia sempat kaget dan tidak menyangka saat diminta membenahi PLN, yang dikabarkan punya utang sekitar Rp 130 triliun. "Saya juga bukan insinyur, yang mengerti soal gardu dan kerusakan jaringan listrik, " ucap lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini sembari tersenyum.
Namun, dalam menjalankan bisnis, Dahlan tergolong sukses. Di bisnis koran, mantan wartawan Tempo ini sukses memimpin Jawa Pos dari koran lokal menjadi koran terbesar di Jawa Timur dan Indonesia bagian Timur. Bahkan ia memiliki jaringan koran lokal melalui Jawa Pos News Network (JPNN), yang bermarkas di Surabaya. Begitu juga dengan pabrik kertas di Gresik untruk menunjang bisnis media cetaknya, juga terbilang sukses.
Salah satu rencananya agar PLN tidak rugi adalah dengan melakukan efisiensi. Dahlan berencana untuk menurunkan biaya produksi PLN yang dinilainya masih tinggi. "Jika biaya ditekan atau diturunkan, subsidi pemerintah bisa dikurangi tanpa menaikkan tarif listrik," tegasnya. (ETA)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
