Pengunjuk Rasa Bersitegang dengan Sopir Angkot
17/12/2009 13:52
Liputan6.com, Mataram: Sekitar 50 orang mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat (Amanat) Nusa Tenggara Barat bersitegang dengan sopir angkutan kota ketika berunjuk rasa di depan Mapolda NTB, demikian laporan Antara, Kamis(17/12).
Ketegangan bermula dari kekesalan para pengemudi terhadap aksi pengunjuk rasa yang menyebabkan arus lalu lintas macet. Beruntung yang hampir berbuntut pada perkelahian bisa ditangani oleh puluhan aparat kepolisian yang melakukan penjagaan. Polisi memerintahkan agar sopir angkutan segera menjalankan kendaraannya.
Massa dari Amanat NTB berunjuk rasa menuntut pengusutan kasus tewasnya dua warga Ngali yang diduga dilakukan oknum ploisi ketika menangani konflik antarwarga Desa Ngali dan Desa Renda di Kabupaten Bima. Dalam aksinya massa membakar keranda jenazah di tengah badan jalan sebagai simbol tindakan aparat kepolisian yang diduga sewenang-wenang menghilangkan nyawa rakyat kecil.
Para pengunjuk rasa juga sempat mendobrak gerbang Mapolda NTB, karena tidak diizinkan masuk dan berdialog dengan para pejabat kepolisian. Aksi dobrak gerbang ini sempat membuat emosi puluhan petugas kepolisian yang sudah dilengkapi tameng dan pentungan, namun situasi yang memanas itu tidak sampai menimbulkan bentrokan karena koordinator aksi memberikan arahan untuk tidak bertindak anarkis.
Sebelum mengakhiri aksinya, koordinator pengunjuk rasa membacakan pernyataan sikap yang berisi permintaan pertanggungjawaban mantan Kapolda NTB, Brigjen H. Surya Iskandar, memecat dan mengadili Kapolres Bima dan Kapolresta Bima serta Danki Brimob terkait tewasnya dua warga sipil tersebut.(AYB)
Ketegangan bermula dari kekesalan para pengemudi terhadap aksi pengunjuk rasa yang menyebabkan arus lalu lintas macet. Beruntung yang hampir berbuntut pada perkelahian bisa ditangani oleh puluhan aparat kepolisian yang melakukan penjagaan. Polisi memerintahkan agar sopir angkutan segera menjalankan kendaraannya.
Massa dari Amanat NTB berunjuk rasa menuntut pengusutan kasus tewasnya dua warga Ngali yang diduga dilakukan oknum ploisi ketika menangani konflik antarwarga Desa Ngali dan Desa Renda di Kabupaten Bima. Dalam aksinya massa membakar keranda jenazah di tengah badan jalan sebagai simbol tindakan aparat kepolisian yang diduga sewenang-wenang menghilangkan nyawa rakyat kecil.
Para pengunjuk rasa juga sempat mendobrak gerbang Mapolda NTB, karena tidak diizinkan masuk dan berdialog dengan para pejabat kepolisian. Aksi dobrak gerbang ini sempat membuat emosi puluhan petugas kepolisian yang sudah dilengkapi tameng dan pentungan, namun situasi yang memanas itu tidak sampai menimbulkan bentrokan karena koordinator aksi memberikan arahan untuk tidak bertindak anarkis.
Sebelum mengakhiri aksinya, koordinator pengunjuk rasa membacakan pernyataan sikap yang berisi permintaan pertanggungjawaban mantan Kapolda NTB, Brigjen H. Surya Iskandar, memecat dan mengadili Kapolres Bima dan Kapolresta Bima serta Danki Brimob terkait tewasnya dua warga sipil tersebut.(AYB)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
