Mengakrabi Pisau, Mengembangkan Seni Bela Diri
Tim Liputan 6 SCTV12/12/2009 06:54
Liputan6.com, Jakarta: Nyaris setiap kebudayaan akrab dengan pisau. Terutama pisau yang digunakan untuk keperluan di dapur. Namun beberapa jenis pisau diperuntukkan bagi bela diri. Macamnya pun beragam. Yang jelas pisau termasuk ke dalam jenis senjata tajam yang praktis. "Yang menarik senjata pisau itu kecil dan ringan dibawa. Dan buat self defense sangat efektif," ucap penggemar pisau, Garick di Jakarta, baru-baru ini.
Garick menjelaskan, ada banyak jenis pisau dari dalam dan luar negeri. Sebut saja bali saw. Teknik memainkan pisau lipat dari Filipina ini tidak bisa sembarangan. Sedikit saja lengah, bisa jadi jari terpotong. Atau ada juga pisau kukri. Pisau khas Nepal ini biasa dipakai tentara Gurkha. Indonesia juga memiliki pisau yang terkenal di mancanegara bernama karambit. Meski kecil, pisau ini memiliki keunggulan dibanding pisau jenis lain.
Penggemar pisau juga umumnya mencintai olah raga bela diri, sehingga mereka tertantang untuk menaklukan pisau dalam bertarung. Tentu saja dibutuhkan latihan intensif untuk menguasai pisau. Sejumlah teknik pun dikembangkan. Mulai dari memegang pisau seperti handle grip dan reverse grip, hingga teknik menyerang yang tak hanya menusuk lurus ke depan tapi juga menyayat dengan sabetan, mengiris, menebas, dan menikam.
Sasaran tubuh yang dituju pun tak main-main. Pembuluh darah di leher, bawah ketiak, paha, dan tentu saja jantung. Namun bukan hanya teknik menyerang yang dipelajari. Cara bertahan dengan tangan kosong melumpuhkan pisau yang digunakan lawan pun dipraktikkan dalam latihan.
Bela diri pisau yang dipelajari Garick bersama komunitasnya secara garis besar mengadaptasi olah raga bela diri Filipina, yakni eskrima, arnis, dan kali. Ketiga jenis bela diri ini menggunakan senjata seperti tongkat, rotan, atau pisau baik dalam menyerang maupun bertahan.(ZAQ)
Garick menjelaskan, ada banyak jenis pisau dari dalam dan luar negeri. Sebut saja bali saw. Teknik memainkan pisau lipat dari Filipina ini tidak bisa sembarangan. Sedikit saja lengah, bisa jadi jari terpotong. Atau ada juga pisau kukri. Pisau khas Nepal ini biasa dipakai tentara Gurkha. Indonesia juga memiliki pisau yang terkenal di mancanegara bernama karambit. Meski kecil, pisau ini memiliki keunggulan dibanding pisau jenis lain.
Penggemar pisau juga umumnya mencintai olah raga bela diri, sehingga mereka tertantang untuk menaklukan pisau dalam bertarung. Tentu saja dibutuhkan latihan intensif untuk menguasai pisau. Sejumlah teknik pun dikembangkan. Mulai dari memegang pisau seperti handle grip dan reverse grip, hingga teknik menyerang yang tak hanya menusuk lurus ke depan tapi juga menyayat dengan sabetan, mengiris, menebas, dan menikam.
Sasaran tubuh yang dituju pun tak main-main. Pembuluh darah di leher, bawah ketiak, paha, dan tentu saja jantung. Namun bukan hanya teknik menyerang yang dipelajari. Cara bertahan dengan tangan kosong melumpuhkan pisau yang digunakan lawan pun dipraktikkan dalam latihan.
Bela diri pisau yang dipelajari Garick bersama komunitasnya secara garis besar mengadaptasi olah raga bela diri Filipina, yakni eskrima, arnis, dan kali. Ketiga jenis bela diri ini menggunakan senjata seperti tongkat, rotan, atau pisau baik dalam menyerang maupun bertahan.(ZAQ)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
