Mencari Berkah di Keraton Solo
Tim Eksis SCTV09/12/2009 23:02
Liputan6.com, Solo: Menjelang peringatan Idul Adha, Keraton Surakarta, Jawa Tengah, biasanya mengadakan grebeg besar. Ini merupakan tradisi perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan. Ditandai dengan sedekah yang dikeluarkan raja kepada rakyatnya. Sejauhmana tradisi ini dipertahankan?
Tak sulit membuktikannya. Toh sebagian masyarakat Solo menganggap berebut sedekah dari keraton sebagai upaya meraih berkah dari Sang Pencipta. Keloyalan terhadap tradisi keraton juga ditunjukkan oleh semangat abdi dalem. Mereka bertugas mengabdi pada raja secara turun-temurun.
Misalnya abdi dalem yang bertugas sebagai juru masak keraton. Sebelum hari peringatan, mereka biasanya menyiapkan berbagai sesaji untuk keluarga raja serta para leluhur penjaga keraton. Sesaji didoakan di pendopo keraton ketika matahari terbenam. Selanjutnya akan disedekahkan ke rakyat keesokan harinya.
Sedekah berupa gunung itu dikenal dengan sebutan gunungan. Ada dua jenis gunungan yang disiapkan, estri dan jaler. Kalau estri melambangkan kesuburan (perempuan). Isinya telur, enton-enton atau penganan dari tepung beras, dan sayur mayur di setiap sudut gunungan. Sementara jaler yang melambangkan kemakmuran (laki-laki) berisi rengginang, roti, dan onde-onde. Gunungan jaler diarak ke halaman keraton, sementara gunungan estri diperebutkan di halaman masjid.
Keraton Surakarta Hadiningrat sendiri berdiri pada 1744 sebagai pengganti Keraton Kartasura. Sejarah mencatat, Susuhunan Pakubuwuno II adalah raja yang membangun keraton tersebut sebagai istana terakhir Mataram. Berbagai tradisi seperti grebeg besar masih terus dijalankan. Dengan cara ini masyarakat mencari berkah Tuhan. Simak selengkapnya dalam tayangan EKSIS SCTV, 9 Desember.(OMI/AYB)
Tak sulit membuktikannya. Toh sebagian masyarakat Solo menganggap berebut sedekah dari keraton sebagai upaya meraih berkah dari Sang Pencipta. Keloyalan terhadap tradisi keraton juga ditunjukkan oleh semangat abdi dalem. Mereka bertugas mengabdi pada raja secara turun-temurun.
Misalnya abdi dalem yang bertugas sebagai juru masak keraton. Sebelum hari peringatan, mereka biasanya menyiapkan berbagai sesaji untuk keluarga raja serta para leluhur penjaga keraton. Sesaji didoakan di pendopo keraton ketika matahari terbenam. Selanjutnya akan disedekahkan ke rakyat keesokan harinya.
Sedekah berupa gunung itu dikenal dengan sebutan gunungan. Ada dua jenis gunungan yang disiapkan, estri dan jaler. Kalau estri melambangkan kesuburan (perempuan). Isinya telur, enton-enton atau penganan dari tepung beras, dan sayur mayur di setiap sudut gunungan. Sementara jaler yang melambangkan kemakmuran (laki-laki) berisi rengginang, roti, dan onde-onde. Gunungan jaler diarak ke halaman keraton, sementara gunungan estri diperebutkan di halaman masjid.
Keraton Surakarta Hadiningrat sendiri berdiri pada 1744 sebagai pengganti Keraton Kartasura. Sejarah mencatat, Susuhunan Pakubuwuno II adalah raja yang membangun keraton tersebut sebagai istana terakhir Mataram. Berbagai tradisi seperti grebeg besar masih terus dijalankan. Dengan cara ini masyarakat mencari berkah Tuhan. Simak selengkapnya dalam tayangan EKSIS SCTV, 9 Desember.(OMI/AYB)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
