Perjalanan Roh di Pulau Dewata
Tim Liputan 6 SCTV03/12/2009 01:17
Liputan6.com, Denpasar: Alam pemikiran Hindu Bali, sebuah keseimbangan semesta. Cerita para dewa menjadi bagian dari alam manusia. Roh milik Sang Hyang Widi Wasa tak pernah mati. Lahir dan lahir kembali, bak matahari yang selalu terbit. Sempurna.
Lontar Svargarohanporwa, bercerita tentang kisah para pandawa. Catatan yang dituangkan dalam lontar-lontar itu dipelajari masyarakat Hindu Bali secara turun-temurun, sejak abad ke-11. Demikian penjelasan Profesor I Made Titib, Rektor Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.
Seperti apa kepercayaan itu diwujudkan dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali?
Keluarga Anak Agung Ngurah Oka Silagunadha melakukan pembersihan hati dan diri lewat Upacara Perayas Citre. Mereka percaya, dengan penyucian, bayi yang berada di rumah akan jauh dari gangguan dunia tak kasat mata. tirte pendande dan tirte kelapa kuning menjadi lambang kesucian. Putih telur lambang kesuburan. Tirte yersi atau air dari pohon dadap menjadi pelengkap, supaya keluarga diberi keselamatan. Semua disiapkan sebelum upacara.
Kemudian keluarga berbondong-bondong ke Puri Anyar Kerambitan, kediaman Kasta Brahmana di Tabanan. Upacara diawali dengan penghormatan pada leluhur raja-raja Bali. Simbolnya, barong landung. Lalu penghaturan, agar puri terlindung dari sifat jahat. Penari palawaktia kemudian mengawal si kecil yang bernama Satria Wibowo, cucu laki-laki Silagunadha.
Masih panjang prosesi itu berlangsung. Seluruhnya menggambarkan penghormatan bagi roh yang menghuni jasad. Roh lahir kembali melalui fisik manusia.
Ada juga prosesi Ngaben. Ketika matahari tenggelam, awan hitam kematian menghantar roh yang meninggalkan alam dunia. Lewat Ngaben, roh itu dikembalikan secara baik-baik ke sang pencipta. Diawal upacara, tetua upacara biasanya membunyikan genta guna menandakan panggilan suci pada perlindungan para dewa.
Tahta pembakaran pun disiapkan. Seiring asap mengepul membakar jasad, keluarga berkeyakinan kalau roh sedang melayang menuju sang pencipta. Abu jenazah kemudian dimasukkan ke kelapa kuning. Tak lupa dibungkus kain putih, sebagai pengingat kalau roh tetap akan kembali. Abu tersebut dilarung atau disimpan oleh keluarga.
Upacara Perayas Citre dan Ngaben merupakan dua dari sekian tradisi Hindu Bali. Dipertahankan sebagai kepercayaan yang menjaga tatanan harmonisasi kehidupan masyarakatnya. Simak perjalanan roh di Pulau Dewata dalam tayangan Eksis di SCTV, Rabu (2/12).(OMI/YUS)
Lontar Svargarohanporwa, bercerita tentang kisah para pandawa. Catatan yang dituangkan dalam lontar-lontar itu dipelajari masyarakat Hindu Bali secara turun-temurun, sejak abad ke-11. Demikian penjelasan Profesor I Made Titib, Rektor Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.
Seperti apa kepercayaan itu diwujudkan dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali?
Keluarga Anak Agung Ngurah Oka Silagunadha melakukan pembersihan hati dan diri lewat Upacara Perayas Citre. Mereka percaya, dengan penyucian, bayi yang berada di rumah akan jauh dari gangguan dunia tak kasat mata. tirte pendande dan tirte kelapa kuning menjadi lambang kesucian. Putih telur lambang kesuburan. Tirte yersi atau air dari pohon dadap menjadi pelengkap, supaya keluarga diberi keselamatan. Semua disiapkan sebelum upacara.
Kemudian keluarga berbondong-bondong ke Puri Anyar Kerambitan, kediaman Kasta Brahmana di Tabanan. Upacara diawali dengan penghormatan pada leluhur raja-raja Bali. Simbolnya, barong landung. Lalu penghaturan, agar puri terlindung dari sifat jahat. Penari palawaktia kemudian mengawal si kecil yang bernama Satria Wibowo, cucu laki-laki Silagunadha.
Masih panjang prosesi itu berlangsung. Seluruhnya menggambarkan penghormatan bagi roh yang menghuni jasad. Roh lahir kembali melalui fisik manusia.
Ada juga prosesi Ngaben. Ketika matahari tenggelam, awan hitam kematian menghantar roh yang meninggalkan alam dunia. Lewat Ngaben, roh itu dikembalikan secara baik-baik ke sang pencipta. Diawal upacara, tetua upacara biasanya membunyikan genta guna menandakan panggilan suci pada perlindungan para dewa.
Tahta pembakaran pun disiapkan. Seiring asap mengepul membakar jasad, keluarga berkeyakinan kalau roh sedang melayang menuju sang pencipta. Abu jenazah kemudian dimasukkan ke kelapa kuning. Tak lupa dibungkus kain putih, sebagai pengingat kalau roh tetap akan kembali. Abu tersebut dilarung atau disimpan oleh keluarga.
Upacara Perayas Citre dan Ngaben merupakan dua dari sekian tradisi Hindu Bali. Dipertahankan sebagai kepercayaan yang menjaga tatanan harmonisasi kehidupan masyarakatnya. Simak perjalanan roh di Pulau Dewata dalam tayangan Eksis di SCTV, Rabu (2/12).(OMI/YUS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
