Wartawan dan Aktivis Filipina Kecam Pembantaian
Tim Liputan 6 SCTV01/12/2009 01:29
Liputan6.com, Manila: Pembantaian 57 orang warga di Filipina Selatan pekan lalu masih menyisakan duka. Pada Senin (30/11) sekitar 1.000 wartawan dan aktivis menggelar unjuk rasa di Manila memprotes peristiwa memilukan itu.
Sambil berkostum hitam-hitam seraya membawa peti jenasah tiruan, para demonstran berjalan kaki menuju sebuah jembatan di dekat Istana Presiden di Kota Manila. Mereka megecam pembantaian bermotif politik yang terjadi di Maguindanao, 23 November lalu dimana sedikitnya 30 wartawan dan staf mereka turut menjadi korban tewas. Para pengunjuk rasa mendesak semua tersangka segera ditangkap.
Juru Bicara Presiden Gloria Macapagal Arroyo yang menemui para pengunjuk rasa justru dicerca dan diejek pendemo, bahkan dilempari kertas. Akhirnya setelah unjuk rasa bubar, juru bicara presiden baru membacakan pernyataan Arroyo bahwa bangsa Filipina harus kembali pada kebebasan pers, kebebasan berpolitik, dan memberikan suara, juga bebas dari kekerasan dan intimidasi.
Kini tersangka utama kasus pembantaian, Andal Ampatuan Junior, masih ditahan di Manila [baca: Tersangka Pembantaian Filipina Menyerahkan Diri]. Polisi juga masih memburu tersangka lain. Anggota klan Ampatuan yang banyak menjadi pejabat di Provinsi Maguindanao pada Ahad kemarin menggelar konferensi pers membantah keterlibatan mereka dalam pembantaian itu.
Sementara itu, menurut catatan Federasi Wartawan Internasional yang berbasis di Belgia, sebelum peristiwa pembantaian terjadi terdapat 75 orang wartawan yang terbunuh selama delapan tahun pemerintahan Arroyo. Dan, hanya empat kasus yang berakhir di pengadilan.(TES/YUS)
Sambil berkostum hitam-hitam seraya membawa peti jenasah tiruan, para demonstran berjalan kaki menuju sebuah jembatan di dekat Istana Presiden di Kota Manila. Mereka megecam pembantaian bermotif politik yang terjadi di Maguindanao, 23 November lalu dimana sedikitnya 30 wartawan dan staf mereka turut menjadi korban tewas. Para pengunjuk rasa mendesak semua tersangka segera ditangkap.
Juru Bicara Presiden Gloria Macapagal Arroyo yang menemui para pengunjuk rasa justru dicerca dan diejek pendemo, bahkan dilempari kertas. Akhirnya setelah unjuk rasa bubar, juru bicara presiden baru membacakan pernyataan Arroyo bahwa bangsa Filipina harus kembali pada kebebasan pers, kebebasan berpolitik, dan memberikan suara, juga bebas dari kekerasan dan intimidasi.
Kini tersangka utama kasus pembantaian, Andal Ampatuan Junior, masih ditahan di Manila [baca: Tersangka Pembantaian Filipina Menyerahkan Diri]. Polisi juga masih memburu tersangka lain. Anggota klan Ampatuan yang banyak menjadi pejabat di Provinsi Maguindanao pada Ahad kemarin menggelar konferensi pers membantah keterlibatan mereka dalam pembantaian itu.
Sementara itu, menurut catatan Federasi Wartawan Internasional yang berbasis di Belgia, sebelum peristiwa pembantaian terjadi terdapat 75 orang wartawan yang terbunuh selama delapan tahun pemerintahan Arroyo. Dan, hanya empat kasus yang berakhir di pengadilan.(TES/YUS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Axis Eksis Unlimited Hemat
Paket unlimited Internet hanya Rp 9.900/minggu dan Rp 29.000/bulan.
www.axisworld.co.id
Paket unlimited Internet hanya Rp 9.900/minggu dan Rp 29.000/bulan.
www.axisworld.co.id
