Studi Banding ke Kamboja Dinilai Menghamburkan Dana
Azwin Nugraha24/11/2009 14:47
Liputan6.com, Banda Aceh: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai studi banding pejabat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh terkait masalah hutan ke Kamboja tidak begitu penting dan terkesan menghambur-hamburkan dana proyek Aceh Forest and Environment Project (AFEP).
"Kami merasa prihatin atas tingkah pola pelaksana proyek AFEP yang mengabaikan rasa keadilan masyarakat hutan di sekitar Leuser dengan melakukan kegiatan yang menghambur-hamburkan dana," ujar Direktur WALHI Aceh, Bambang Antariksa di Banda Aceh, seperti diwartakan ANTARA, Selasa (24/11).
Menurut rencana, Yayasan Leuser Internasional (YLI) yang mengelola proyek AFEP bakal mengajak sejumlah pejabat dan anggota Komisi B DPRA ke Kamboja untuk studi banding mengenai pengelolaan hutan di negara itu pada 6-13 Desember 2009.
Dana jalan-jalan ke Kamboja ini akan diambil dari proyek AFEP tahun 2009. Proyek AFEP merupakan proyek penyelamatan hutan Aceh, baik di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan Kawasan Ekosistem Ulu Masen senilai 17,5 juta dolar Amerika Serikat atau kurang lebih Rp175 miliar yang dilaksanakan YLI dan Fauna Flora Internasional (FFI).
Bambang menyatakan, rencana studi banding itu sepatutnya tidak didukung oleh DPRA sebagai institusi yang mewakili rakyat Aceh, ketika rakyat di masyarakat di sekitar Leuser saat ini hidup memprihatinkan.(ASW/YUS)
"Kami merasa prihatin atas tingkah pola pelaksana proyek AFEP yang mengabaikan rasa keadilan masyarakat hutan di sekitar Leuser dengan melakukan kegiatan yang menghambur-hamburkan dana," ujar Direktur WALHI Aceh, Bambang Antariksa di Banda Aceh, seperti diwartakan ANTARA, Selasa (24/11).
Menurut rencana, Yayasan Leuser Internasional (YLI) yang mengelola proyek AFEP bakal mengajak sejumlah pejabat dan anggota Komisi B DPRA ke Kamboja untuk studi banding mengenai pengelolaan hutan di negara itu pada 6-13 Desember 2009.
Dana jalan-jalan ke Kamboja ini akan diambil dari proyek AFEP tahun 2009. Proyek AFEP merupakan proyek penyelamatan hutan Aceh, baik di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan Kawasan Ekosistem Ulu Masen senilai 17,5 juta dolar Amerika Serikat atau kurang lebih Rp175 miliar yang dilaksanakan YLI dan Fauna Flora Internasional (FFI).
Bambang menyatakan, rencana studi banding itu sepatutnya tidak didukung oleh DPRA sebagai institusi yang mewakili rakyat Aceh, ketika rakyat di masyarakat di sekitar Leuser saat ini hidup memprihatinkan.(ASW/YUS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
