Kesal, Siswa Dilempar Penghapus Kayu
Taufan Yudha21/11/2009 12:54
Liputan6.com, Kudus: Tindak kekerasan di dunia pendidikan kembali terulang. Karena kesal, Ripto, seorang guru sekolah dasar di Kudus, Jawa tengah, melempar penghapus kayu ke siswanya, Andika Maulana Hiba. Akibatnya, siswa kelas tiga Sekolah Dasar di Wergu Wetan 1, Kudus, Jateng, itu hanya bisa menangis kesakitan sambil memegang pelipis mata kirinya yang memar.
Peristiwa bermula saat Andika dan teman-temanya mendapat tugas dari sekolah untuk membersihkan ruang kelas, Jumat (20/11) pagi. Menurut pengakuan Andika, ketika ia sedang membersihkan pintu kelas dan sesekali bercanda bersama teman sekelasnya, sang guru yang ada di kelas tiba-tiba melempar sebuah penghapus papan tulis ke arahnya dengan keras. Segera setelah kejadian, Andika pulang ke rumah dan melapor ke kedua orang tuanya.
Mendengar pengaduan anaknya, kedua orang tua Andika segera datang ke sekolah untuk bertemu Ripto. Saat saling berhadapan, raut muka Andika masih terlihat ketakutan menatap sang guru. Kejadian tersebut amat disayangkan pihak keluarga Andika. Karena, orang tua Andika khawatir anaknya trauma dan takut kembali ke sekolah. Ripto mengaku khilaf, karena saat kejadian ia sedang lelah.
Kendati kasus kekerasan dalam pendidikan itu diselesaikan secara kekeluargaan, tindak kekerasan guru terhadap muridnya tak bisa dibenarkan. Sebab, guru tak beda dengan orang tua pengganti, yang seharusnya membimbing dengan sabar. Dan bukan menjadikan siswa sebagai pelampias kekesalan. Selengkapnya, simak video berita ini.(BJK/SHA)
Peristiwa bermula saat Andika dan teman-temanya mendapat tugas dari sekolah untuk membersihkan ruang kelas, Jumat (20/11) pagi. Menurut pengakuan Andika, ketika ia sedang membersihkan pintu kelas dan sesekali bercanda bersama teman sekelasnya, sang guru yang ada di kelas tiba-tiba melempar sebuah penghapus papan tulis ke arahnya dengan keras. Segera setelah kejadian, Andika pulang ke rumah dan melapor ke kedua orang tuanya.
Mendengar pengaduan anaknya, kedua orang tua Andika segera datang ke sekolah untuk bertemu Ripto. Saat saling berhadapan, raut muka Andika masih terlihat ketakutan menatap sang guru. Kejadian tersebut amat disayangkan pihak keluarga Andika. Karena, orang tua Andika khawatir anaknya trauma dan takut kembali ke sekolah. Ripto mengaku khilaf, karena saat kejadian ia sedang lelah.
Kendati kasus kekerasan dalam pendidikan itu diselesaikan secara kekeluargaan, tindak kekerasan guru terhadap muridnya tak bisa dibenarkan. Sebab, guru tak beda dengan orang tua pengganti, yang seharusnya membimbing dengan sabar. Dan bukan menjadikan siswa sebagai pelampias kekesalan. Selengkapnya, simak video berita ini.(BJK/SHA)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Bookmark
Berita Terpopuler
- Dua Kamerawan Terbaik SCTV Gugur dalam Tugas
- Teka Teki Jatuhnya Sukhoi
- Inilah 45 Nama Korban Tewas Sukhoi
- Puluhan Orang Tewas Tersambar Petir
- Hitung Jari Lebih Cepat dari Kalkulator
- KNKT: Parasut Tak Dipakai Pilot untuk Melarikan Diri
- Kedatangan Presiden SBY Ditolak Mahasiswa
- Seluruh Korban Sukhoi Teridentifikasi
- Mabes Polri Masih Evaluasi Konser Lady Gaga
- Basarnas Hentikan Pencarian Korban Sukhoi

