Tumbilotohe, Sejuta Lampu di Akhir Ramadan
Syamsu Panna17/09/2009 15:09
Liputan6.com, Gorontalo: Idulfitri atau Hari Kemenangan segera tiba. Warga Gorontalo pun merayakan tradisi tumbilotohe atau menyalakan berjuta lampu minyak di akhir Ramadan. Tradisi yang diselenggarakan pada Rabu malam hingga Kamis (17/9) dini hari membawa berkah bagi banyak pihak, termasuk para nelayan.
Ribuan warga tumpah ruah ke sejumlah tempat untuk menyaksikan indahnya hiasan lampu temaram. Lampu-lampu minyak dipasang menghiasi Kota Gorontalo, seperti di jalan-jalan, halaman rumah, masjid, bahkan sungai-sungai.
Tahun ini tempat paling favorit yang dikunjungi ribuan warga adalah di sekitar Jembatan Talumolo. Sedikitnya 15.000 buah lampu minyak dari Dinas Pariwisata Kota Gorontalo menghiasi muara Sungai Bone. Pelita sebanyak itu diperkirakan menghabiskan 4.000 liter minyak tanah. Akibat padatnya warga di tempat ini, jalanan pun macet hingga jam satu dini hari.
Karena tumbilotohe, para nelayan pun ketiban rezeki. Perahu-perahu mereka disewa oleh para wisatawan yang ingin ke tengah sungai untuk menyaksikan tumbilotohe dari dekat. Tarif yang dikenakan pun bervariasi antara Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per orang tergantung jarak yang ditempuh. Para nelayan ini mengaku memperoleh pendapatan sedikitnya Rp 250 ribu per malam pada perayaan tumbilotohe di tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea, tradisi ini akan terus dikembangkan di tahun-tahun yang akan datang. Karena selain untuk melestarikan budaya turun-temurun, tradisi ini juga membawa rezeki bagi warganya. Sejumlah wisatawan pun mengaku kagum dengan tradisi tumbilotohe ini.(TES/ANS)
Ribuan warga tumpah ruah ke sejumlah tempat untuk menyaksikan indahnya hiasan lampu temaram. Lampu-lampu minyak dipasang menghiasi Kota Gorontalo, seperti di jalan-jalan, halaman rumah, masjid, bahkan sungai-sungai.
Tahun ini tempat paling favorit yang dikunjungi ribuan warga adalah di sekitar Jembatan Talumolo. Sedikitnya 15.000 buah lampu minyak dari Dinas Pariwisata Kota Gorontalo menghiasi muara Sungai Bone. Pelita sebanyak itu diperkirakan menghabiskan 4.000 liter minyak tanah. Akibat padatnya warga di tempat ini, jalanan pun macet hingga jam satu dini hari.
Karena tumbilotohe, para nelayan pun ketiban rezeki. Perahu-perahu mereka disewa oleh para wisatawan yang ingin ke tengah sungai untuk menyaksikan tumbilotohe dari dekat. Tarif yang dikenakan pun bervariasi antara Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per orang tergantung jarak yang ditempuh. Para nelayan ini mengaku memperoleh pendapatan sedikitnya Rp 250 ribu per malam pada perayaan tumbilotohe di tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea, tradisi ini akan terus dikembangkan di tahun-tahun yang akan datang. Karena selain untuk melestarikan budaya turun-temurun, tradisi ini juga membawa rezeki bagi warganya. Sejumlah wisatawan pun mengaku kagum dengan tradisi tumbilotohe ini.(TES/ANS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
