RI-Malaysia Sepakat Hindari Isu Klaim Budaya
Tim Liputan 6 SCTV17/09/2009 15:08
Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat untuk sedapat mungkin menghindari isu klaim warisan budaya sebagai usaha untuk memperkecil masalah yang mungkin terjadi antara dua negara tetangga itu. Hal itu dinyatakan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dalam konferensi pers yang diadakan sesaat setelah pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman, di Jakarta, Kamis (17/9).
"Kami sepakat untuk mengurangi hal-hal yang akan menjadi isu sensitif bagi masyarakat dua negara termasuk klaim budaya agar tidak ada kesalahpahaman dan perpecahan hubungan Indonesia-Malaysia lagi," ujar Hassan seperti dikutip ANTARA.
Hassan menjelaskan sebagai negara yang bertetangga dekat, Indonesia dan Malaysia banyak berbagi produk budaya dan seni yang sama akibat hubungan dekat masyarakatnya baik secara historis maupun geografis sejak bertahun-tahun yang lalu. Oleh sebab itu, kata Hassan, masyarakat dua negara tidak perlu terlalu sensitif dalam hal sebaran budaya ini karena ada beberapa produk-produk sejenis yang sifatnya milik bersama atau universal.
"Sebaiknya semua masalah diselesaikan dengan pendekatan rasional dan dalam semangat ingin mempersatukan rakyat Indonesia-Malaysia dalam suatu hubungan yang harmonis," ujar Hassan.
Dia menambahkan, untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dalam hubungan bilateral kedua negara, Indonesia dan Malaysia mulai tahun lalu telah membentuk delegasi kelompok tokoh dua negara (EPG) untuk melakukan riset sekaligus menyampaikan rekomendasinya terhadap perbaikan hubungan dua negara di masa yang akan datang."EPG dua negara sudah siap dengan laporannya dan akan segera menyampaikan hal tersebut ke pimpinan negara masing-masing," ujarnya.
Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman, menjelaskan pemerintahnya tidak pernah berniat untuk mengakui warisan budaya milik Indonesia. "Kita banyak memiliki produk budaya dan seni yang sama dengan Indonesia. Kami tidak pernah berniat mengklaim hak Indonesia melainkan hanya mencoba menghargainya lewat ekspose di Malaysia," ujar Anifah.
Anifah juga meminta agar media kedua negara tidak menyebarkan isu-isu yang bisa menimbulkan polemik di masyarakat.
Pertemuan Menlu Indonesia dengan Menlu Malaysia hari ini di Gedung Pancasila, Kantor Departemen Luar Negeri Indonesia, juga dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Da`i Bachtiar. Rombongan tiba di Kantor Departemen Luar Negeri sekitar pukul 10.00 WIB tadi pagi. Rombongan dijadwalkan akan menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara [baca: Presiden Terima Menlu Malaysia].(AND)
"Kami sepakat untuk mengurangi hal-hal yang akan menjadi isu sensitif bagi masyarakat dua negara termasuk klaim budaya agar tidak ada kesalahpahaman dan perpecahan hubungan Indonesia-Malaysia lagi," ujar Hassan seperti dikutip ANTARA.
Hassan menjelaskan sebagai negara yang bertetangga dekat, Indonesia dan Malaysia banyak berbagi produk budaya dan seni yang sama akibat hubungan dekat masyarakatnya baik secara historis maupun geografis sejak bertahun-tahun yang lalu. Oleh sebab itu, kata Hassan, masyarakat dua negara tidak perlu terlalu sensitif dalam hal sebaran budaya ini karena ada beberapa produk-produk sejenis yang sifatnya milik bersama atau universal.
"Sebaiknya semua masalah diselesaikan dengan pendekatan rasional dan dalam semangat ingin mempersatukan rakyat Indonesia-Malaysia dalam suatu hubungan yang harmonis," ujar Hassan.
Dia menambahkan, untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dalam hubungan bilateral kedua negara, Indonesia dan Malaysia mulai tahun lalu telah membentuk delegasi kelompok tokoh dua negara (EPG) untuk melakukan riset sekaligus menyampaikan rekomendasinya terhadap perbaikan hubungan dua negara di masa yang akan datang."EPG dua negara sudah siap dengan laporannya dan akan segera menyampaikan hal tersebut ke pimpinan negara masing-masing," ujarnya.
Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman, menjelaskan pemerintahnya tidak pernah berniat untuk mengakui warisan budaya milik Indonesia. "Kita banyak memiliki produk budaya dan seni yang sama dengan Indonesia. Kami tidak pernah berniat mengklaim hak Indonesia melainkan hanya mencoba menghargainya lewat ekspose di Malaysia," ujar Anifah.
Anifah juga meminta agar media kedua negara tidak menyebarkan isu-isu yang bisa menimbulkan polemik di masyarakat.
Pertemuan Menlu Indonesia dengan Menlu Malaysia hari ini di Gedung Pancasila, Kantor Departemen Luar Negeri Indonesia, juga dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Da`i Bachtiar. Rombongan tiba di Kantor Departemen Luar Negeri sekitar pukul 10.00 WIB tadi pagi. Rombongan dijadwalkan akan menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara [baca: Presiden Terima Menlu Malaysia].(AND)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
