"Raja Budak" Lestarikan Permainan Tradisional
Patria Hidayat02/08/2009 14:15
Liputan6.com, Bandung: Namanya Cak Teu, salah satu permainan anak tradisional asal Jawa Barat. Mungkin, nama permainan ini kurang lazim di telinga anak-anak perkotaan. Namun selama masih ada Mohammad Zaini Alif, pria yang tak sungkan mengajarkan Cak Teu pada anak-anak, warisan leluhur ini akan tetap terjaga.
Secara rutin, Zaini melatih bocah binaannya untuk membuat dan memainkan Cek Teu. Salah satunya membuat gogolekan dari bahan daun dan batang singkong. Kemudian, anak-anak bakal diajarkan mengadu keterampilan dan kelincahan melewati garis dengan mata tertutup.
Menurut Zaini, ide pelestarian budaya permainan ini berawal dari penelitian tesisnya. Semakin mendalami bahan tesisnya, semakin antusias Zaini melestarikan sampai akhirnya membentuk komunitas Hong yang menjadi pusat kajian mainan rakyat Sunda. Tak terasa, ia sudah meneliti dan mengumpulkan sekitar 250 permainan tradisional anak dari Tanah Sunda.
Kiprah Dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia dan ITENAS Bandung ini ternyata mendapat apresiasi dari masyarakat Bandung. Bahkan kini komunitasnya semakin bertambah. Banyak bocah usia sekolah yang kembali bermain perepet jengkol, paciwit-ciwit lutung, sur ser, sondah, atau galah Bandung.
Untuk perkembangan permainan tradisional anak, pria yang mendapat julukan Raja Budak atau Raja Anak itu tengah mempersiapkan pembangunan perkampungan tradisional anak di kawasan Taman Hutan Raya Juanda Bandung. Tentu saja, dengan harapan agar permainan warisan leluhur bisa lestari.(OMI/YUS)
Secara rutin, Zaini melatih bocah binaannya untuk membuat dan memainkan Cek Teu. Salah satunya membuat gogolekan dari bahan daun dan batang singkong. Kemudian, anak-anak bakal diajarkan mengadu keterampilan dan kelincahan melewati garis dengan mata tertutup.
Menurut Zaini, ide pelestarian budaya permainan ini berawal dari penelitian tesisnya. Semakin mendalami bahan tesisnya, semakin antusias Zaini melestarikan sampai akhirnya membentuk komunitas Hong yang menjadi pusat kajian mainan rakyat Sunda. Tak terasa, ia sudah meneliti dan mengumpulkan sekitar 250 permainan tradisional anak dari Tanah Sunda.
Kiprah Dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia dan ITENAS Bandung ini ternyata mendapat apresiasi dari masyarakat Bandung. Bahkan kini komunitasnya semakin bertambah. Banyak bocah usia sekolah yang kembali bermain perepet jengkol, paciwit-ciwit lutung, sur ser, sondah, atau galah Bandung.
Untuk perkembangan permainan tradisional anak, pria yang mendapat julukan Raja Budak atau Raja Anak itu tengah mempersiapkan pembangunan perkampungan tradisional anak di kawasan Taman Hutan Raya Juanda Bandung. Tentu saja, dengan harapan agar permainan warisan leluhur bisa lestari.(OMI/YUS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
