Ubur-Ubur Belum Banyak Dimanfaatkan Masyarakat
08/10/2001 15:26
Liputan6.com, Trenggalek: Minimnya informasi pengelolaan ubur-ubur menjadi makanan bergizi menjadikan jenis hewan laut ini tak banyak diproduksi di dalam negeri. Padahal, belakangan ini, para nelayan Karangongso, Kabupaten Trenggalek, Jawa Tengah, telah mengekspor ubur-ubur ke manca negara, di antaranya Jepang dan Korea.
Kabupaten Trenggalek dikenal sebagai satu daerah yang menjadi pusat hasil laut dan memiliki kelebihan dalam menghasilkan ubur-ubur berkualitas. Jenis hewan laut itu banyak diminati masyarakat negeri Sakura dan Korea karena bergizi tinggi. Namun, Indonesia belum banyak memanfaatkan ubur-ubur sebagai alternatif makanan dari laut. Hal itu disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai pengolahan ubur-ubur menjadi makanan bergizi.
Para nelayan Karangongso mengaku tak setiap tahun dapat mengeksploitasi ubur-ubur. Pasalnya, hewan tersebut jarang ditemukan di Perairan Indonesia. Namun, setelah hampir empat tahun, nelayan Karanggongso mendapatkan ubur-ubur dengan kwalitas baik. Biasanya, ubur-ubur yang ada di Trenggalek antara lain adalah jenis kikir, cendol, dan helm. Untuk tahun ini, para nelayan bisa memperoleh 50 hingga 100 kilogram ubur-ubur setiap kali melaut.
Kemudian, hasil tangkapan para nelayan dijual kepada pengepul seharga Rp 10 ribu per keranjang. Ditangan pengepul, ubur-ubur dipisahkan antara piring dan kepalanya. Untuk menghindari racun yang mengakibatkan gatal dan panas, ubur-ubur diberi obat. Selanjutnya, diasinkan dengan garam dan siap diekspor.(PIN/Agus Ainul Yaqin dan Danang Sumirat)
Kabupaten Trenggalek dikenal sebagai satu daerah yang menjadi pusat hasil laut dan memiliki kelebihan dalam menghasilkan ubur-ubur berkualitas. Jenis hewan laut itu banyak diminati masyarakat negeri Sakura dan Korea karena bergizi tinggi. Namun, Indonesia belum banyak memanfaatkan ubur-ubur sebagai alternatif makanan dari laut. Hal itu disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai pengolahan ubur-ubur menjadi makanan bergizi.
Para nelayan Karangongso mengaku tak setiap tahun dapat mengeksploitasi ubur-ubur. Pasalnya, hewan tersebut jarang ditemukan di Perairan Indonesia. Namun, setelah hampir empat tahun, nelayan Karanggongso mendapatkan ubur-ubur dengan kwalitas baik. Biasanya, ubur-ubur yang ada di Trenggalek antara lain adalah jenis kikir, cendol, dan helm. Untuk tahun ini, para nelayan bisa memperoleh 50 hingga 100 kilogram ubur-ubur setiap kali melaut.
Kemudian, hasil tangkapan para nelayan dijual kepada pengepul seharga Rp 10 ribu per keranjang. Ditangan pengepul, ubur-ubur dipisahkan antara piring dan kepalanya. Untuk menghindari racun yang mengakibatkan gatal dan panas, ubur-ubur diberi obat. Selanjutnya, diasinkan dengan garam dan siap diekspor.(PIN/Agus Ainul Yaqin dan Danang Sumirat)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
