Gunung Merapi Tertutup bagi Pendaki
24/03/2007 06:19
Liputan6.com, Tanah Datar: Gempa yang melanda Sumatra Barat 6 Maret lalu berdampak pula pada pencinta alam yang ingin menjelajah Gunung Merapi, Tanah Datar. Kini gunung yang memiliki ketinggian 2.947 meter dari permukaan laut dinyatakan tertutup untuk pendaki. Demikian pemantauan SCTV, belum lama ini.
Para pemuda yang bermukim di kaki gunung itu, tepatnya di Desa Koto Baru terpaksa melakukan tindakan itu setelah menemukan rengkahan batu di sekitar puncak gunung. Mereka khawatir kegiatan pendakian justru akan menimbulkan dampak yang membahayakan.
Warga kemudian menyebarkan larangan itu melalui poster atau selebaran. Tak hanya itu. Para pemuda juga melakukan patroli di sekitar kaki gunung. Ini untuk mencegah para pendaki nekat yang naik melalui jalur tikus yang banyak dijumpai.
Selama ini Gunung Merapi merupakan favorit di kalangan pendaki Sumbar, Jambi, dan Riau. Sebab akses menuju desa terakhir di kaki gunung terbilang mudah ditempuh dibanding gunung lain. Di hari-hari biasa, setiap pekan ada sekitar 500 orang yang melakukan pendakian.
Sementara itu, dampak gempa sekitar tiga pekan lalu itu juga memukul nasib para seniman rabab. Beberapa jadwal pementasan kesenian tradisional rakyat pesisir Minangkabau ini di sejumlah hajatan banyak yang dibatalkan. Kelompok "Sinar Padang", misalnya, baru sekali tampil seusai gempa hampir tiga pekan silam.
Padahal saat-saat seperti ini biasanya kelompok rebab ini kebanjiran order untuk manggung karena bulan Safar berdasarkan hitungan kalender Islam umumnya banyak warga yang menggelar pesta pernikahan. Namun karena masih berduka akibat gempa, banyak warga yang membatalkan pertunjukan rabab di hajatan.
Rabab merupakan tradisi sastra lisan di mana pemainnya menyampaikan cerita dalam bentuk lagu. Rabab yang menggunakan alat musik rebab terkait erat dengan masuknya Islam ke Nusantara. Bisa disebut rabab merupakan sumbangan penting bagi kebudayaan Islam.
Pengaruh lindu juga berpengaruh terhadap rencana pengoperasian kereta api wisata Sumbar. Infrastruktur ular besi ini rusak, sebagian rel bahkan mengalami kerusakan yang cukup parah. Berdasarkan catatan PT Kereta Api Indonesia Sumbar, ada 12 titik rel yang rusak. Akibatnya rencana pengoperasian kereta yang sedianya akan dilaksanakan 8 April nanti ikutan buyar.
Ironisnya, persiapan untuk peluncuran kereta api dari Padang menuju Lembah Anai dan Danau Singkarak itu sudah dilakukan sejak jauh hari. Bahkan awal Januari lalu sudah dilakukan uji coba jalur dari Padang menuju Padang Panjang, melewati pinggiran Danau Singkarak, terus ke Solok dan berakhir di kota tambang Sawahlunto. Sebanyak 12 lokomotif, termasuk gerbong eksekutif kepresidenan dan VIP (very important person) juga sudah disiapkan di Stasiun Simpang Haru, Padang.
Sebenarnya Dinas Pariwisata provinsi ini telah lama mempromosikan kereta api wisata ini. Pengoperasian kereta ini diharapkan bisa menjadi ikon wisata Sumbar bagi turis yang ingin menikmati pemandangan alam Lembah Anai, terowongan zaman dahulu, rel kereta api bergigi, serta pemandangan di tepi Danau Singkarak.
Di sisi lain, gempa yang memakan puluhan jiwa itu malah tak mampu meruntuhkan rumah gadang, rumah adat tradisional urang awak yang terbuat dari kayu. Salah satu contohnya adalah rumah gadang milik Damang Cengkok di daerah Sumani, Solok.
Usia bangunan ini sudah lebih dari satu abad, tapi gempa tak mampu meruntuhkannya. Kalaupun ada yang rusak, hanyalah pada bangunan-bangunan tambahan seperti tangga depan dan dapur bagian belakang yang justru terbuat dari bata dan semen.
Selebihnya rumah gadang ini terlihat kokoh. Sebaliknya, rumah di sekitarnya banyak yang ambruk dan retak-retak. Maklumlah, daerah Sumani hanya berjarak beberapa kilometer dari episentrum gempa.
Rahasianya terletak pada struktur bangunan yang memegang falsafah kearifan lokal. Ada satu petuah orang tua bagi masyarakat Minang yang ingin membangun tempat tinggal. Carilah lokasi yang datar, tidak berair, dan posisinya relatif lebih tinggi dari sekitar.
Bahan bangunan juga harus disesuaikan dengan lingkungan. Tiang rumah dari kayu surian yang sudah tua, anyaman bambu untuk dinding, batang pohon kelapa menjadi lantai dan atap dari ijuk. Karena itu jangan heran jika tidak ada satu pun rumah gadang yang runtuh saat lindu mengguncang kawasan ini, beberapa waktu lalu.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
Para pemuda yang bermukim di kaki gunung itu, tepatnya di Desa Koto Baru terpaksa melakukan tindakan itu setelah menemukan rengkahan batu di sekitar puncak gunung. Mereka khawatir kegiatan pendakian justru akan menimbulkan dampak yang membahayakan.
Warga kemudian menyebarkan larangan itu melalui poster atau selebaran. Tak hanya itu. Para pemuda juga melakukan patroli di sekitar kaki gunung. Ini untuk mencegah para pendaki nekat yang naik melalui jalur tikus yang banyak dijumpai.
Selama ini Gunung Merapi merupakan favorit di kalangan pendaki Sumbar, Jambi, dan Riau. Sebab akses menuju desa terakhir di kaki gunung terbilang mudah ditempuh dibanding gunung lain. Di hari-hari biasa, setiap pekan ada sekitar 500 orang yang melakukan pendakian.
Sementara itu, dampak gempa sekitar tiga pekan lalu itu juga memukul nasib para seniman rabab. Beberapa jadwal pementasan kesenian tradisional rakyat pesisir Minangkabau ini di sejumlah hajatan banyak yang dibatalkan. Kelompok "Sinar Padang", misalnya, baru sekali tampil seusai gempa hampir tiga pekan silam.
Padahal saat-saat seperti ini biasanya kelompok rebab ini kebanjiran order untuk manggung karena bulan Safar berdasarkan hitungan kalender Islam umumnya banyak warga yang menggelar pesta pernikahan. Namun karena masih berduka akibat gempa, banyak warga yang membatalkan pertunjukan rabab di hajatan.
Rabab merupakan tradisi sastra lisan di mana pemainnya menyampaikan cerita dalam bentuk lagu. Rabab yang menggunakan alat musik rebab terkait erat dengan masuknya Islam ke Nusantara. Bisa disebut rabab merupakan sumbangan penting bagi kebudayaan Islam.
Pengaruh lindu juga berpengaruh terhadap rencana pengoperasian kereta api wisata Sumbar. Infrastruktur ular besi ini rusak, sebagian rel bahkan mengalami kerusakan yang cukup parah. Berdasarkan catatan PT Kereta Api Indonesia Sumbar, ada 12 titik rel yang rusak. Akibatnya rencana pengoperasian kereta yang sedianya akan dilaksanakan 8 April nanti ikutan buyar.
Ironisnya, persiapan untuk peluncuran kereta api dari Padang menuju Lembah Anai dan Danau Singkarak itu sudah dilakukan sejak jauh hari. Bahkan awal Januari lalu sudah dilakukan uji coba jalur dari Padang menuju Padang Panjang, melewati pinggiran Danau Singkarak, terus ke Solok dan berakhir di kota tambang Sawahlunto. Sebanyak 12 lokomotif, termasuk gerbong eksekutif kepresidenan dan VIP (very important person) juga sudah disiapkan di Stasiun Simpang Haru, Padang.
Sebenarnya Dinas Pariwisata provinsi ini telah lama mempromosikan kereta api wisata ini. Pengoperasian kereta ini diharapkan bisa menjadi ikon wisata Sumbar bagi turis yang ingin menikmati pemandangan alam Lembah Anai, terowongan zaman dahulu, rel kereta api bergigi, serta pemandangan di tepi Danau Singkarak.
Di sisi lain, gempa yang memakan puluhan jiwa itu malah tak mampu meruntuhkan rumah gadang, rumah adat tradisional urang awak yang terbuat dari kayu. Salah satu contohnya adalah rumah gadang milik Damang Cengkok di daerah Sumani, Solok.
Usia bangunan ini sudah lebih dari satu abad, tapi gempa tak mampu meruntuhkannya. Kalaupun ada yang rusak, hanyalah pada bangunan-bangunan tambahan seperti tangga depan dan dapur bagian belakang yang justru terbuat dari bata dan semen.
Selebihnya rumah gadang ini terlihat kokoh. Sebaliknya, rumah di sekitarnya banyak yang ambruk dan retak-retak. Maklumlah, daerah Sumani hanya berjarak beberapa kilometer dari episentrum gempa.
Rahasianya terletak pada struktur bangunan yang memegang falsafah kearifan lokal. Ada satu petuah orang tua bagi masyarakat Minang yang ingin membangun tempat tinggal. Carilah lokasi yang datar, tidak berair, dan posisinya relatif lebih tinggi dari sekitar.
Bahan bangunan juga harus disesuaikan dengan lingkungan. Tiang rumah dari kayu surian yang sudah tua, anyaman bambu untuk dinding, batang pohon kelapa menjadi lantai dan atap dari ijuk. Karena itu jangan heran jika tidak ada satu pun rumah gadang yang runtuh saat lindu mengguncang kawasan ini, beberapa waktu lalu.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
