Yang Berjuang untuk Pulih
24/03/2007 06:18
Liputan6.com, Bukittinggi: Ini kisah Ngarai Sianok, ikon wisata Bukittinggi, Ranah Minang. Memanjang sejauh 15 kilometer dari Koto Gadang melewati Ngarai Enam Suku hingga berakhir di Palupuh, keindahan Grand Canyon Sumatra Barat ini memang tidak ada duanya.
Jutaan tahun dibutuhkan untuk pembentukan ngarai ini, jutaan tahun gerakan turun kulit bumi yang dalam istilah geologi disebut sinklinal. Gerakan dua lempeng pembentuk dinding ngarai, lempeng sianok dan sumani.
Tapi hanya dalam hitungan detik, ngarai ini hancur saat Sumbar diguncang gempa pada 6 Maret silam [baca: Gempa 5,8 SR Mengguncang Sumbar dan Riau]. Guncangan sekeras 5,8 skala Richter itu tidak mampu ditahan tanah dan pasir halus di dinding ngarai. Hampir 80 persen dinding tebing luruh. Ada 18 titik longsor yang sangat parah. Longsor bahkan menutup aliran sungai. Air sungai yang jernih lalu berubah warna menjadi keruh kecokelatan.
Gempa tersebut merusak pula Taman Panorama yang ada di dekat ngarai. Kerusakan juga terjadi pada Lubang Jepang yang berada di taman itu. Bekas markas pasukan Jepang pada Perang Dunia II ini secara fisik memang terlihat tidak rusak. Tapi pemerintah setempat tidak mau mengambil risiko, penutupan pun dilakukan. Apalagi letaknya sekitar 20 meter di bawah permukaan tanah.
Hingga kini belum diketahui sampai kapan penutupan tersebut berlangsung. Sejauh ini belum ada langkah konkret memperbaiki objek-objek wisata tersebut. Dinding Ngarai masih dibiarkan runtuh mengikuti kemauan alam. Pihak pemerintah setempat hanya membersihkan jalan raya yang menutup akses transportasi.
Situasi mirip juga dialami Jam Gadang, landmark Kota Bukittinggi. Pascagempa, jam ini masih mati hingga kini. Sepintas gempa seolah tak mampu menyentuhnya sebab secara fisik struktur bangunan menara setinggi 26 meter ini tetap tegak berdiri.
Namun bila diperhatikan lekat-lekat nyatalah jarum penunjuk waktunya sudah tidak berfungsi lagi. Menurut Yovi Sandra, salah satu penjaga jam tersebut, masalahnya terletak pada mesin jam yang berada di atas menara.
Repotnya sebagai jam tua, tidak mudah untuk memperbaikinya. Alat yang dibutuhkan tidak lagi ada. Maklumlah, usia jam ini terbilang tua, dibuat 1926. Hadiah Ratu Belanda kepada Rook Maker, penguasa Bukittinggi di masa lalu.
Apalagi mesin jam seperti ini hanya ada dua di dunia. Satu di Bukittinggi, satunya lagi di London, Inggris. Ya, jam Big Ben yang terkenal itu memang merupakan saudara kembar Jam Gadang!
Tapi tidak mungkin juga membiarkan bangunan bersejarah ini tidak berfungsi. Sejumlah upaya coba dilakukan. Pihak Pemerintah Kota Bukittinggi bahkan berupaya merakit alat sejenis yang rusak. Harapannya tentu saja alat rakitan itu bisa berguna dan jam pun kembali berdetak.
Sementara kondisi Kota Bukittinggi sendiri sesungguhnya boleh dikatakan pulih. Bangunan-bangunan wisata dan hotel-hotel yang rusak telah diperbaiki. Meski demikian, hotel-hotel tidak dapat beroperasi sepenuhnya.
Persoalannya, kota yang menjadi salah satu tujuan utama wisata Sumbar ini masih berjuang untuk kembali menarik wisatawan. Meski belum kembali seperti sebelum gempa, sejumlah wisatawan sudah mulai mengunjungi kota berhawa dingin ini. Diharapkan, awal April nanti pariwisata kota di atas perbukitan ini kembali pulih seperti sediakala.
Tak jauh berbeda dengan Bukittinggi, Nagari Koto Gadang yang dikenal sebagai sentra industri kerajinan perak dan sulaman di provinsi ini juga masih berjuang untuk pulih. Produksi kerajinan perak dan sulaman yang menjadi daya tarik untuk kunjungan wisatawan juga belum hidup. Hampir semua rumah perajin dan toko-toko suvenir juga masih tutup.
Bahkan masih banyak perajin yang belum berani kembali ke rumah atau bengkel kerajinan miliknya akibat trauma gempa. Hal ini misalnya dialami Iwan, perajin sekaligus pemilik toko suvenir Leo. Sehari-hari Iwan dan keluarga lebih memilih tinggal di tenda sederhana yang dibangun di tengah ladang di dekat rumah.
Nagari Koto Gadang memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia. Nagari ini merupakan kampung halaman pahlawan nasional Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir. Jumlah penduduknya 2.300 jiwa, sebanyak 171 di antaranya adalah perajin sulaman dan 50 lain perajin kerajinan perak. Kampung sejuk di bawah kaki gunung ini ternyata belum lagi dapat menyejukkan penduduknya untuk kembali menjalani kehidupan normal.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
Jutaan tahun dibutuhkan untuk pembentukan ngarai ini, jutaan tahun gerakan turun kulit bumi yang dalam istilah geologi disebut sinklinal. Gerakan dua lempeng pembentuk dinding ngarai, lempeng sianok dan sumani.
Tapi hanya dalam hitungan detik, ngarai ini hancur saat Sumbar diguncang gempa pada 6 Maret silam [baca: Gempa 5,8 SR Mengguncang Sumbar dan Riau]. Guncangan sekeras 5,8 skala Richter itu tidak mampu ditahan tanah dan pasir halus di dinding ngarai. Hampir 80 persen dinding tebing luruh. Ada 18 titik longsor yang sangat parah. Longsor bahkan menutup aliran sungai. Air sungai yang jernih lalu berubah warna menjadi keruh kecokelatan.
Gempa tersebut merusak pula Taman Panorama yang ada di dekat ngarai. Kerusakan juga terjadi pada Lubang Jepang yang berada di taman itu. Bekas markas pasukan Jepang pada Perang Dunia II ini secara fisik memang terlihat tidak rusak. Tapi pemerintah setempat tidak mau mengambil risiko, penutupan pun dilakukan. Apalagi letaknya sekitar 20 meter di bawah permukaan tanah.
Hingga kini belum diketahui sampai kapan penutupan tersebut berlangsung. Sejauh ini belum ada langkah konkret memperbaiki objek-objek wisata tersebut. Dinding Ngarai masih dibiarkan runtuh mengikuti kemauan alam. Pihak pemerintah setempat hanya membersihkan jalan raya yang menutup akses transportasi.
Situasi mirip juga dialami Jam Gadang, landmark Kota Bukittinggi. Pascagempa, jam ini masih mati hingga kini. Sepintas gempa seolah tak mampu menyentuhnya sebab secara fisik struktur bangunan menara setinggi 26 meter ini tetap tegak berdiri.
Namun bila diperhatikan lekat-lekat nyatalah jarum penunjuk waktunya sudah tidak berfungsi lagi. Menurut Yovi Sandra, salah satu penjaga jam tersebut, masalahnya terletak pada mesin jam yang berada di atas menara.
Repotnya sebagai jam tua, tidak mudah untuk memperbaikinya. Alat yang dibutuhkan tidak lagi ada. Maklumlah, usia jam ini terbilang tua, dibuat 1926. Hadiah Ratu Belanda kepada Rook Maker, penguasa Bukittinggi di masa lalu.
Apalagi mesin jam seperti ini hanya ada dua di dunia. Satu di Bukittinggi, satunya lagi di London, Inggris. Ya, jam Big Ben yang terkenal itu memang merupakan saudara kembar Jam Gadang!
Tapi tidak mungkin juga membiarkan bangunan bersejarah ini tidak berfungsi. Sejumlah upaya coba dilakukan. Pihak Pemerintah Kota Bukittinggi bahkan berupaya merakit alat sejenis yang rusak. Harapannya tentu saja alat rakitan itu bisa berguna dan jam pun kembali berdetak.
Sementara kondisi Kota Bukittinggi sendiri sesungguhnya boleh dikatakan pulih. Bangunan-bangunan wisata dan hotel-hotel yang rusak telah diperbaiki. Meski demikian, hotel-hotel tidak dapat beroperasi sepenuhnya.
Persoalannya, kota yang menjadi salah satu tujuan utama wisata Sumbar ini masih berjuang untuk kembali menarik wisatawan. Meski belum kembali seperti sebelum gempa, sejumlah wisatawan sudah mulai mengunjungi kota berhawa dingin ini. Diharapkan, awal April nanti pariwisata kota di atas perbukitan ini kembali pulih seperti sediakala.
Tak jauh berbeda dengan Bukittinggi, Nagari Koto Gadang yang dikenal sebagai sentra industri kerajinan perak dan sulaman di provinsi ini juga masih berjuang untuk pulih. Produksi kerajinan perak dan sulaman yang menjadi daya tarik untuk kunjungan wisatawan juga belum hidup. Hampir semua rumah perajin dan toko-toko suvenir juga masih tutup.
Bahkan masih banyak perajin yang belum berani kembali ke rumah atau bengkel kerajinan miliknya akibat trauma gempa. Hal ini misalnya dialami Iwan, perajin sekaligus pemilik toko suvenir Leo. Sehari-hari Iwan dan keluarga lebih memilih tinggal di tenda sederhana yang dibangun di tengah ladang di dekat rumah.
Nagari Koto Gadang memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia. Nagari ini merupakan kampung halaman pahlawan nasional Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir. Jumlah penduduknya 2.300 jiwa, sebanyak 171 di antaranya adalah perajin sulaman dan 50 lain perajin kerajinan perak. Kampung sejuk di bawah kaki gunung ini ternyata belum lagi dapat menyejukkan penduduknya untuk kembali menjalani kehidupan normal.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
