Nursalim Lumpuh Sejak Umur Sembilan Bulan
23/03/2006 15:01
Mereka tinggal di Desa Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah. Ketika ditemui wartawan SCTV Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo, Nursalim terlihat tertawa-tawa riang. Namun, ia tidak bisa bermain bebas seperti teman-temannya. Jika tidak sedang bekerja, Kumaemi-lah teman sehari-hari ini. Dengan penuh kasih sayang Kumaemi membopong Nursalim ke mana pun.
Menurut Kumaemi, pertumbuhan tulang anaknya terlihat sejak umum sembilan bulan, diawali dengan suhu badan tinggi. Bolak-balik Nursalim dibawa berobat ke rumah sakit, tapi tidak ada kemajuan. Uang mereka pun ludes. Bahkan Kumaemi mengaku, masih berutang Rp 100 ribu ke apotek. Pendapatan dari membuat kantong plastik hanya Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per hari. Itu jelas tidak menutupi kebutuhan hidup. Meski miskin, Kumaemi bercita-cita tetap mengobati Nursalim ke pengobatan alternatif.(KEN)
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...

