Nasti, "Sinterklas" Kotak Kelana
12/02/2006 14:31
Nasti Reksodiputro menekuni dunia pendidikan sejak 44 tahun silam. Dia adalah pensiunan dosen Universitas Indonesia. Namun bagi Nasti, tak ada istilah pensiun dalam dunia pendidikan. Bersama Riris Sarumpaet, Grace Wiradisastra, dan Olvia Reksodiputro, Nasti mendirikan Yayasan Pustaka Kelana pada 1995. Kegiatan pertama yayasan ini ialah menyelenggarakan perpustakaan keliling di seputar Jakarta Timur. Menggunakan sejumlah mobil sumbangan, yayasan ini mendatangi daerah yang membutuhkan buku bermutu.
Seiring waktu, program keliling tempat untuk menyediakan buku bermutu kian akrab bagi anak-anak yang membutuhkan buku bagus. Bahkan sebagian besar anak-anak telah mengenal kegiatan sosial ini sebagai kotak kelana. Nama ini diambil dari kotak berisi buku bacaan di dalam mobil yang didrop ke setiap sekolah. "Jadi kotak kelana ini didrop di sekolah, kemudian ditinggalkan pada penanggung jawab sekolah selama satu bulan lalu ditukar dengan kotak yang lain," tutur jebolan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (sekarang UPI) Malang dan Universitas Hawaii jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini.
Kini, kotak kelana sudah melayani 25 sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama di Jakarta. Kedatangan nenek yang bercita-cita menjadi penerjemah pun selalu ditunggu anak-anak yang haus bacaan. Termasuk oleh bocah bernama Sukma. Siswi SD ini mengaku kerap menantikan kehadiran Nasti dengan kotak kelananya. "Di sini tidak ada perpustakaan," tutur Sukma.
Senyum ceria kerap menghiasi senyum bocah tatkala kotak kelana datang ke sekolah mereka. Buku-buku bacaan ini, bagaikan hiburan gratis yang jarang didapat siswa-siswa beberapa sekolah dasar. Karena itu, mereka tak pernah segan saling membantu untuk mengangkat kotak-kotak berisi ratusan buku ke kelas mereka.
Nenek lima cucu ini memang bertekad, bila ada anak-anak gemar membaca namun tak sulit mendapatkannya, maka Nasti dan si kotak kelana akan mendatanginya. Bocah-bicah juga senang karena di tengah kunjungannya, Nasti tak segan berinteraksi dengan mereka.
Selain berkeliling, Nasti juga mengelola sebuah perpustakaan kecil di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Namanya, Pustaka Mangkal. Tempatnya tidak besar, tapi nyaman. Bagi Nasti, perpustakaan tak perlu mewah atau sempurna. Asal tempat itu dapat berguna serta menyenangkan banyak orang, sudah cukup.(YAN/Cindy Agustina dan Beni Soisa)
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Bookmark
Berita Terpopuler
- Dua Kamerawan Terbaik SCTV Gugur dalam Tugas
- Teka Teki Jatuhnya Sukhoi
- Inilah 45 Nama Korban Tewas Sukhoi
- Puluhan Orang Tewas Tersambar Petir
- Hitung Jari Lebih Cepat dari Kalkulator
- KNKT: Parasut Tak Dipakai Pilot untuk Melarikan Diri
- Kedatangan Presiden SBY Ditolak Mahasiswa
- Seluruh Korban Sukhoi Teridentifikasi
- Mabes Polri Masih Evaluasi Konser Lady Gaga
- Basarnas Hentikan Pencarian Korban Sukhoi

