Bomo Utomo Berhasil Menaklukkan Leukimia
05/02/2006 14:14
Tentu tak ada yang menyangka di balik tubuhnya yang tinggi tegap, pemuda 21 tahun ini harus menghabiskan sebagian hidupnya bergulat melawan leukimia. Mahasiswa semester enam di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta pertama kali terindikasi mengidap kanker di usia 6 tahun. Awalnya, ia hanya didiagnosis menderita demam biasa. Tapi orangtuanya curiga sebab Bomo tak kunjung sembuh. Setelah menjalani serangkaian tes laboratorium, baru diketahui ia mengidap leukimia kronis.
Karena masih kecil, waktu itu Bomo tidak sadar menderita penyakit mematikan. Meski harus menjalani pengobatan intensif dan berbagai terapi, termasuk kemoterapi di rumah sakit. Keseharian masa kanak-kanak tetap dijalani seperti biasa. Saat berumur 10 tahun, barulah ia sadar kondisi tubuhnya tidak seperti anak-anak pada umumnya. "Tiap minggu suntik. Terus sebulan sekali saya dapat suntikan yang obatnya itu mengakibatkan saya benar tidak bisa apa-apa," kenang dia. Menurut dia, tulang-tulangnya terasa sakit. "Jadi mau duduk enggak bisa, berdiri enggak bisa dan tiduran pun sakit," terang dia.
Beruntung Bomo berasal dari keluarga mampu sehingga tak ada kendala membiayai pengobatan yang mahal. Tiap bulan dibutuhkan sedikitnya ratusan juta rupiah untuk kemoterapi, cuci darah, dan suntik sumsum tulang. Namun itu tidak cukup. Dia akhirnya juga berobat ke Amsterdam, Belanda.
Tak urung mengidap leukimia sempat membuat Bomo kehilangan semangat hidup. Ia sempat berpikir malas berobat sebab badannya letih karena efek pengobatan yang dijalani. "Tapi setelah dipikir lagi. Ya, itu emang enggak boleh berhenti. Kalo mau sembuh ya harus diterusin," Bomo mengungkapkan. Namun, dukungan moral dan kasih sayang keluarga membuatnya bangkit kembali untuk melawan penyakitnya. Hingga akhirnya 2001 lalu dokter menyatakan Bomo sembuh total.
"Alhamdulillah, bisa saya lewati," kata Bomo. Bomo bernafas lega karena leukimia yang diidap selama lebih dari sembilan tahun kini hanyalah bagian dari masa lalu. Ia juga bersyukur bisa kembali hidup normal dan menjalani aktivitas seperti orang lain.
Bomo tidak ingin melewatkan hari-harinya dengan sia-sia. Selain sibuk dengan kegiatan kampus, ia sering menghabiskan waktu mengutak-atik mobil yang merupakan hobinya. Cita-citanya ternyata sederhana yakni ingin membuka bisnis perbengkelan.
Berbekal pengalaman hidupnya, Bomo ingin berbagi dengan para penderita kanker lain agar mereka tidak lagi merasa terkucil. Ia sadar untuk sembuh dari penyakit itu, upaya medis saja tidak cukup tanpa dukungan moral dan psikologis dari orang-orang terdekat.(MAK/Widiyaningsih dan Daeng Tanto)
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Bookmark
Berita Terpopuler
- Dua Kamerawan Terbaik SCTV Gugur dalam Tugas
- Teka Teki Jatuhnya Sukhoi
- Inilah 45 Nama Korban Tewas Sukhoi
- Puluhan Orang Tewas Tersambar Petir
- Hitung Jari Lebih Cepat dari Kalkulator
- KNKT: Parasut Tak Dipakai Pilot untuk Melarikan Diri
- Kedatangan Presiden SBY Ditolak Mahasiswa
- Seluruh Korban Sukhoi Teridentifikasi
- Mabes Polri Masih Evaluasi Konser Lady Gaga
- Basarnas Hentikan Pencarian Korban Sukhoi

