Masjid yang memiliki luas bangunan 30 x 30 meter ini ditopang 25 tiang dari kayu pilihan yang setiap tiangnya diberi nama nabi. Di bagian dalam, ada delapan pintu masuk yang menggambarkan pintu surga. Pada 1900-an, masjid ini direnovasi. Renovasi dilakukan di bagian depan. Namun, renovasinya condong pada ciri bangunan Portugis. Ini terlihat dari dinding dan lantai masjid yang tadinya berlapis kapur putih padang panjang dan semen merah mulai dilapisi semen. Bahan pelapis itu didatangkan dari Jerman oleh agen asal Belanda, Jacobson van den Berg. Pemugaran pun selesai pada 1910.
Sebagai pusat syiar di sekitar masjid juga bermunculan sekolah-sekolah agama dari Muhammadiyah dan Thawalib. Pengajarnya didatangkan dari tanah Arab. Di antaranya yang ternama adalah Syekh Abdul Hadi. Tak heran, sekolah ini pun banyak menghasilkan ulama ternama di Indonesia.
Saat gempa melanda Kota Padang, 10 April 2005, tiga tiang masjid patah. Kejadian itu memberi pertanda pada pengurus masjid bahwa tiang-tiang yang ada sudah mulai rapuh dimakan zaman. Tapi, untuk mengganti seluruh tiang kayu dibutuhkan biaya yang besar. Diperkirakan, untuk merehabilitasi seluruh bangunan dibutuhkan biaya Rp 2 miliar.(ORS/Denni Risman dan Arset Kusnadi)
Advertisement