Berita Terpopuler
- Presiden: Pemimpinnya Bukan Orang Aceh
- Sri Mulyani Puji Pidato Presiden
- Sebelum Pidato, Presiden Kumpulkan Para Menteri
- Hari Ini, Presiden dan Wapres Umumkan Kekayaan
- PAN Ingin Amie Rais Tetap Jadi Pembina
- Pengamat: Presiden Tak Akan Berani Rombak Kabinet
- Amien Rais Imbau Dua Pejabat Negara Mundur
- Boediono: Ini Demi Menyelamatkan Perekonomian Indonesia
- Boediono: Bank Century Seperti Rumah Terbakar
- Boediono: Saya Tidak Akan Mundur
Mabes Polri Bakal Periksa Williardi
Nina Bahri dan Yudhistira
11/11/2009 18:18
Liputan6.com, Jakarta: Dugaan rekayasa kasus mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar yang diungkap terdakwa Williardi Wizar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terus bergulir. Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri menyatakan akan memeriksa Wiliardi terkait disebutnya tiga nama petinggi Polri dalam kasus rekayasa tersebut, Rabu (11/11) [baca: Wiliardi: Penahanan Antasari Dikondisikan Petinggi Polri].
Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri yang namanya juga disebut Williardi, membantah kesaksian anak buahnya itu. Lantas, siapa yang benar dan siapa yang berbohong? Yang jelas, pernyataan mantan Kapolres Jakarta Selatan itu membuat skenario kriminalisasi KPK terlintas kembali. Jadi akankah kebenaran terungkap?
Sementara, dukungan terhadap Polri untuk menuntaskan kasus KPK justru terus bermunculan. Seperti di Medan, Sumatra Utara. Ratusan warga dan mahasiswa yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Hukum Sumatera Utara mengecam segala bentuk intervensi terhadap institusi kepolisian. Dalam aksi simpatik di Bundaran Majestik tersebut, demonstran juga membagikan bunga kepada polisi.
Di Solo, Jawa Tengah, ratusan massa justru menyatakan dukungannya kepada KPK. Elemen masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Anti Korupsi mengecam sikap Kejaksaan Agung yang tetap meneruskan kasus Bibit-Chandra ke pengadilan. Dalam aksinya, massa menuntut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mundur lantaran dianggap gagal membersihkan kepolisian dan kejaksaan dari praktek korupsi.
Ya, pendapat boleh berbeda. Pastinya, masyarakat berharap kebenaranlah yang akan menang.(ASW/SHA)
Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri yang namanya juga disebut Williardi, membantah kesaksian anak buahnya itu. Lantas, siapa yang benar dan siapa yang berbohong? Yang jelas, pernyataan mantan Kapolres Jakarta Selatan itu membuat skenario kriminalisasi KPK terlintas kembali. Jadi akankah kebenaran terungkap?
Sementara, dukungan terhadap Polri untuk menuntaskan kasus KPK justru terus bermunculan. Seperti di Medan, Sumatra Utara. Ratusan warga dan mahasiswa yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Hukum Sumatera Utara mengecam segala bentuk intervensi terhadap institusi kepolisian. Dalam aksi simpatik di Bundaran Majestik tersebut, demonstran juga membagikan bunga kepada polisi.
Di Solo, Jawa Tengah, ratusan massa justru menyatakan dukungannya kepada KPK. Elemen masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Anti Korupsi mengecam sikap Kejaksaan Agung yang tetap meneruskan kasus Bibit-Chandra ke pengadilan. Dalam aksinya, massa menuntut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mundur lantaran dianggap gagal membersihkan kepolisian dan kejaksaan dari praktek korupsi.
Ya, pendapat boleh berbeda. Pastinya, masyarakat berharap kebenaranlah yang akan menang.(ASW/SHA)
