Ledakan Bom Beri Sentimen Negatif  

Andri Setyawan
17/07/2009 16:33
Liputan6.com, Jakarta: Ledakan bom yang mengguncang Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton Jumat (17/7) pagi, memberikan sentimen negatif pada pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup merosot hingga 25,869 poin atau sebesar 1,22% ke level 2.092,081.

Wakil Kepala Riset dan Analis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere mengatakan, ledakan bom yang terjadi tadi pagi memberikan sentimen negatif bagi pasar modal. Meski begitu, kejadian tersebut tak mengguncang pasar. Pasalnya, peristiwa meledaknya bom di dua hotel mewah di kawasan Kuningan itu lebih pada kondisi keamanan dalam negeri. "Pelaku pasar sudah lebih dewasa menyikapi, meski memberi sentimen negatif tapi tidak sampai mengguncang pasar," katanya ketika dihubungi Liputan6.com.

Nico memperkirakan jika pemerintah dapat menjamin keamanan dan peristiwa ini tidak terulang maka kondisi pasar akan stabil. "Itu sudah dibuktikan dengan pernyataan tegas Presiden SBY yang akan menindak pelaku peledakan. Itu memberikan rasa aman bagi masyarakat," kata Nico.(AND)


Bookmark

  • Delicious
  • Digg
  • reddit
  • StumbleUpon

Ada 11 Komentar Untuk Artikel Ini.

Posting komentar Anda
@roe @ Sabtu, 18 Juli 2009 | 15:29
saya setuju dng pendapat Bpk. Roe, sudah ketahuan siapa kira2 yang dalangnyaa dan sudah jelas kaki tangan al qaedah di indonesia, yaituJI, kenapa kok tidak dibubarkan dgn tegas
berit @ Sabtu, 18 Juli 2009 | 13:22
ya ga heran kalo keamanan negara kt lemah begini, anggota POLRI n BIN byk yg berhasil karena dulu waktu seleksi pake nombok sih, jd ga sesuai kemampuan n tnggung jawabnya
bram @ Sabtu, 18 Juli 2009 | 12:51
inilah indonesiaku yang tercinta. kpk saja dengan Polisi berkelahi, apa tidak maksud dari semua ini?
adit @ Sabtu, 18 Juli 2009 | 10:42
..ambil IBROH dari semua ini..
eko maldini @ Sabtu, 18 Juli 2009 | 01:29
Intelejen di negara ini kurang berfungsi dg baik, masa hotel yg jadi pusat perhatian dunia krn MU mau datang dan di jaga berlapis masih saja kecolongan....kalau yang ini sampe kecolongan pantas saja Malaysia berani memasuki wilayah Ambalat...
AY Podhi @ Jumat, 17 Juli 2009 | 22:12
Kapolri hrs bertanggung jawab, sebab program kuiq respons yang dibuatnya telah membuat anggota Polisi sebagai mesin bukan sebagai manusia, coba bayangkan para pakar sudah mengungkapkan bahwa kekatan manusia kerja maksimal seminggu 40 jam kerja, sehari 8 jam kerja(UU No. 13), ternyata anggota polisi kecuali para Jendral itu kerjanya 1 X 24 jam, apalagi saat pemilu itu istirahat 2 jam masuk lagi dalam sehar kerjanya 24 lebih dan dalam seminggu 150 jam lebih.Kepada pembaca maksimal tidak polisi bertugas, anggota Polisi sekarang 99 % takut dipecat/dipindahkan sehingga tidak berani berkomentar apalagi mengusukan sebagai masukan, makanya kasus yang terjadi dan apalgi Bom seperti ini tidak heran kalau Polisi malam-malam semuanya tidur karena kecapehan. Jadi program Kuiq Respons itu hanya cara Kapolri untuk cari muka dengan SBY. Kalau saya gampang saja kalau anggota diberi tugas yang sesuai dengan kemampuan, pasti semua kejahatan sedini mungkin dapat diungkap, dan perlu diingat tugas polisi berhasil bukan pada berapa kasus diungkap tetapi berapa banyak kasus yang direndam sebelum terjadi. Semoga Kapolri sadar..........
lagaknya @ Jumat, 17 Juli 2009 | 22:00
KnP harus saling menyalahkan yak...
agung mirmanto @ Jumat, 17 Juli 2009 | 20:46
pemerintah harus tegas dan mengusut siapa dibalik teror bom apapun golongannya harus tetap dihukum
sdrt @ Jumat, 17 Juli 2009 | 17:58
Untuk apa punya presiden kalau tidak bisa menjaga keamanan negaranya, katanya aja akan bertindak tegas tapi sebenarnya takut sendiri nanti di bom .... Sudah sisetem negara ini jelek, banyak koropsi, bnyk hutang lagi. Kasihan kita rakyat kecil jadi korban.
Stereofoe @ Jumat, 17 Juli 2009 | 17:40
Pecat Kepala BIN, Lalu direformasi struktur organisasi BIN, prosedur, dan fungsi Intelijen Negara, jangan hanya jago menakut2i rakyat dan jadi alat represi politik saja, tapi harus berani melawan musuh domestik dan luar negeri. Malu ama Mossad, udah jelas2 positif ada cell teroris di Indonesia kok ya gak bertindak? Tidak mengerti arti pre-emptive apa? What a shame! Jangan takut dibilang melanggar HAM atau sama kelompok agama/golongan tertentu. Kalo emang bersalah harus segera disikat.
roe @ Jumat, 17 Juli 2009 | 16:56
tindak tegas jgn seperti kasus amrozi yg terkesan pemerintah takut pada golongan dan kelompok tertentu yg sudah nyata teroris dan mendukung terorisme

POSTING KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar
Security Code